HUT RI, Karnaval Banyuasin Kembaran Purworejo Padukan Tradisi dan Kreativitas

  • 20 Agt 2026 12:04 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Purworejo - Karnaval Budaya di Desa Banyuasin Kembaran, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo memadukan tradisi dan kreativitas warga dalam memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Rabu, 19 Agustus 2026. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkuat kebersamaan dan melestarikan budaya lokal.

Sekitar 2.000 warga dari empat dusun, lima RW, dan 11 RT ikut ambil bagian dalam karnaval yang digelar di sepanjang jalan desa. Sejumlah lembaga pendidikan dan instansi juga turut memeriahkan kegiatan tersebut.

Salah satu peserta yang menarik perhatian yakni SMP Negeri 29 Purworejo dengan melibatkan 150 siswa. Mereka menampilkan kreasi seni, tari, drumband, busana berbahan plastik dan karung goni, hingga maskot hasil karya sendiri.

Kepala SMPN 29 Purworejo, Tutwuri Handayani, mengatakan keikutsertaan siswa merupakan puncak kegiatan kokurikuler bertema Semarak Kemerdekaan. Kegiatan tersebut dirancang untuk membangun karakter kolaborasi dan kreativitas siswa.

“Ini merupakan puncak dari kegiatan kokurikuler Semarak Kemerdekaan. Kami membangun karakter kolaborasi dan kreativitas, ini proyek lintas mata pelajaran Prakarya, Seni, dan IPS,” ujarnya.

Pembagian tugas dilakukan berdasarkan jenjang kelas, yakni kelas VII membuat busana plastik, kelas VIII busana karung goni, dan kelas IX membuat maskot. Siswa juga mendapat tugas mandiri membuat gagar mayang sebagai bagian dari kegiatan tersebut.

“Anak-anak sangat semangat. Kadang jam pelajaran sudah selesai, mereka belum pulang karena harus menyelesaikan tugas proyek,” kata Tutwuri.

Sementara itu, Kepala Desa Banyuasin Kembaran, Ahmad Abdul Azis, mengatakan karnaval merupakan rangkaian peringatan HUT RI yang sebelumnya diawali Malam Tirakatan dan Gebyar Rebana pada 17 Agustus. Menurutnya, seluruh RT turut mengirimkan peserta dalam kegiatan tersebut.

“Semua RT mengeluarkan peserta. Warga semuanya turun dan membaur dalam karnaval,” jelasnya.

Karnaval tahun ini juga dikolaborasikan dengan tradisi merti desa. Daya tariknya antara lain gunungan hasil bumi berisi sayur, buah, dan umbi-umbian dari tiap pedukuhan yang kemudian diperebutkan warga sebagai wujud syukur.

Iring-iringan karnaval turut menampilkan kuda lumping, rewo-rewo, tumpeng, ingkung, dan bergodo hasil inisiatif warga. Beragam pertunjukan dan hasil kreativitas tersebut menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan sekaligus upaya memperkenalkan potensi desa.

“Ini merupakan wujud rasa syukur dan terima kasih. Melalui gunungan itu kita bisa menunjukkan hasil pertanian yang ada di Banyuasin Kembaran,” kata Ahmad.

Usai karnaval, warga juga disuguhi pertunjukan kuda lumping dari Sinogo, Kulon Progo. Namun, berdasarkan Peraturan Desa dan kesepakatan tokoh masyarakat, pertunjukan hanya digelar hingga sore hari.

“Karnaval bukan hanya ajang silaturahmi, tetapi juga salah satu cara melestarikan budaya. Dari keanekaragaman itu kita menjadi satu kesatuan, yaitu Banyuasin Kembaran, seperti Bhinneka Tunggal Ika,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....