Trauma Korban Bencana Tak Boleh Diabaikan, Dampaknya Bisa Berkepanjangan
- 19 Agt 2026 16:04 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Pemulihan korban bencana tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan fisik seperti makanan, tempat tinggal dan layanan kesehatan. Kondisi psikologis korban juga membutuhkan perhatian sejak awal karena trauma yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi gangguan mental yang lebih serius.
Dosen Psikologi sekaligus staf ahli bidang psikososial di Pusat Studi Bencana LPPM Universitas Sebelas Maret atau UNS, Dr. Farida Hidayati, S.Psi., M.Si mengatakan, bencana merupakan peristiwa yang mengancam dan menakutkah. Oleh karena itu, tubuh secara alami merespons dalam kondisi stres.
Peningkatan hormon kortisol dapat membuat seseorang kesulitan mengambil keputusan atau bahkan mengalami respons diam dan tidak mampu bergerak. “Bencana itu satu kondisi yang menakutkan, terasa membahayakan, itu respons tubuh secara alami,” katanya dalam wawancara bersama RRI, Rabu, 19 Agustus 2026.
Menurutnya, kecepatan seseorang untuk pulih dari trauma dipengaruhi sedikitnya tiga faktor, yakni tingkat keparahan kejadian, kondisi individu, serta dukungan lingkungan. Korban yang kehilangan rumah atau anggota keluarga, misalnya, dapat mengalami dampak psikologis yang berbeda dibandingkan korban yang tidak mengalami kehilangan besar.
Sementara itu, kemampuan mengendalikan emosi dan tingkat resiliensi juga turut menentukan proses pemulihan. Selain itu, dukungan sosial dari keluarga, teman atau orang yang bersedia mendengarkan juga dapat membantu korban memperoleh kembali rasa aman.
Farida mengingatkan, dampak trauma yang diabaikan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Dalam jangka pendek, korban bisa mengalami gangguan tidur, kehilangan nafsu makan, menarik diri dan berubah dari kebiasaan sehari-hari.
Jika berlanjut, korban dapat kehilangan motivasi, enggan kembali ke sekolah atau bekerja, hingga mengalami gangguan yang lebih serius seperti depresi dan PTSD. “Luka fisik maupun luka psikologis itu, keduanya perlu untuk segera dipulihkan,” ucapnya.
Menurutnya, penanganan psikologis perlu berjalan beriringan dengan penanganan kebutuhan fisik korban bencana. Pemulihan tidak harus berarti korban segera melupakan peristiwa yang dialaminya, tetapi memberikan ruang agar korban dapat memproses pengalaman tersebut dan kembali menjalankan kehidupannya secara bertahap.
Farida menilai tanda pemulihan dapat terlihat ketika gejala seperti mimpi buruk, gangguan makan dan tidur mulai berkurang. Pada tahap berikutnya, korban mulai kembali bersekolah, bekerja, bersosialisasi maupun menjalankan peran dalam keluarga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....