Batik Dewa Lowano Purworejo Tembus Pasar 4 Negara Lewat Pewarna Alam
- 18 Agt 2026 18:16 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Purworejo - Berawal dari secarik ilmu yang dibawa pulang seorang Babinsa, Batik Dewa Lowano di Dusun Kesambi, Desa Loano, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo kini tumbuh menjadi sentra wastra. Batik itu sekaligus pusat pelatihan yang produknya sudah menembus pasar internasional.
Didirikan Dyah Wahyu Ristyani dan suaminya Andy Sadewa sejak 2012, usaha ini membuktikan bahwa inovasi dan kolaborasi bisa membuat batik lokal bersaing hingga ke luar negeri. Awal mula Batik Dewa Lowano sederhana.
Saat bertugas di Pekalongan, Andy banyak bersinggungan dengan dunia batik. Ilmu itu kemudian dibawa pulang.
“Ilmu membatik itu dibawa pulang ke rumah. Kami kemudian intens tertarik dengan dunia batik. Kami mendatangkan beberapa ahli dari Pekalongan untuk melatih kami, mulai dari setting tempat, pewarnaan hingga pengecapan,” ujar Dyah saat dikonfirmasi pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Untuk batik tulis, Dyah belajar otodidak hingga akhirnya lulus sertifikasi BNSP. Dari yang semula belum produksi sendiri, kini mereka menguasai batik tulis dan batik cap, serta mengembangkan ecoprint, shibori, jumputan, shibotik, hingga ecotik.
Ciri khas Batik Dewa Lowano adalah pewarna alam. Biji-bijian, kulit kayu, daun dan tanaman diolah menjadi pewarna kain. Salah satunya lewat kerja sama dengan petani jenitri di Kebumen.
“Kami dikenal sebagai produsen batik yang bergerak di pewarnaan alam. Menggunakan pewarna dari alam, dari godok-godokan biji, kulit kayu dan daun-daunan,” jelasnya.
Konsep ramah lingkungan ini membuat produknya dilirik pasar luar negeri. Kain pewarna alam Batik Dewa Lowano telah dikirim ke Australia, Italia, Belanda, dan Selandia Baru.
Produk mereka juga pernah meraih juara 1 Produk Ekonomi Kreatif Kabupaten Purworejo dan mewakili Kodam IV/Diponegoro di ajang Persit Kartika Chandra Kirana di Balai Kartini, Jakarta.
Perjalanan tak selalu mulus. Saat pandemi, produksi terhenti dan modal habis. Dyah dan Andy lalu beralih membuat masker nonmedis dari perca batik hingga ribuan pcs.
“Waktu itu kami sama sekali tidak bisa produksi karena modal pun habis untuk konsumsi. Kemudian kami bergerak untuk pembuatan masker nonmedis dari perca batik dan perca kain,” ungkap Dyah.
Dari situ mereka belajar untuk fleksibel. Kini produk berkembang ke pakaian jadi, hem, dress, outer, selendang, tas, kipas, hingga busana sewa untuk fashion show.
Strategi pasarnya sederhana menyesuaikan budget konsumen. “Kami ingin produk kami disukai mulai dari kalangan bawah sampai atas. Bagaimana caranya? Kami menyesuaikan dengan budgeting mereka,” kata Dyah.
Batik Dewa Lowano kini bukan hanya produsen. Mereka juga menjadi pusat pelatihan untuk TK, SD, SMP, SMA, PKK hingga umum. Materinya mulai dari membatik, ecoprint, shibori, hingga pewarnaan alam dan sintetis.
Kolaborasi juga digencarkan: dengan petani, pengrajin, sekolah, pemerintah, UMKM, hingga content creator. Siswa PKL dilibatkan di bidang tata busana, manajemen, desain dan konten digital.
Efek digital terasa. Banyak pelanggan datang setelah menemukan lokasi mereka di Google Maps. “Kompetitor kami tidak menganggap kompetitor itu selalu menjadi musuh, tetapi menjadi ide. Ketika mereka menampilkan kreasi, kita tergerak untuk bisa berkreasi lebih,” tutur Dyah.
Warga setempat, Rini, menilai kualitas Batik Loano sudah setara brand nasional. “Menurut saya hasil batiknya bagus halus dan motifnya juga cantik, saatnya batik Purworejo untuk berani muncul dan menjadi brand,” ungkapnya.
Dyah berharap Batik Purworejo semakin dikenal dan mendapat dukungan penggunaan produk lokal. “Harapannya Batik Purworejo bisa berkembang di kancah regional, nasional, bahkan internasional. Kita bisa bersaing secara sehat dan bergandengan tangan untuk memajukan Batik Purworejo,” pungkasnya.
Bagi Dyah dan Andy, prinsipnya tetap satu “Nguri-uri dan berkreasi terhadap kekayaan Purworejo, yaitu Batik Purworejo.”(Ags)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....