Pengamat: Momentum HUT RI Bisa Jadi Awal Budaya Peduli Lingkunan

  • 11 Agt 2026 17:20 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID., Semarang - Pengamat lingkungan Universitas Diponegoro, Sri Sumiati, menilai momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dinilai perlu dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk membangun budaya peduli lingkungan. Semangat gotong-royong yang tumbuh setiap Agustus diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengatakan peringatan kemerdekaan merupakan momentum penting untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, kerja bakti yang selama ini identik dengan bulan Agustus harus berkembang menjadi modal sosial dalam membangun masyarakat yang memiliki kesadaran lingkungan tinggi.

"Nah, ini merupakan pintu masuk untuk membangun kesadaran partisipasi dari masyarakat maupun kegiatan kolektivitas dari masyarakat. Karena dengan adanya peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang setiap tahun tentunya akan selalu berulang, sehingga menumbuhkan kepedulian kita terhadap lingkungan secara berkelanjutan," katanya, Senin, 11 Agustus 2026.

Ia menilai kesadaran masyarakat Kota Semarang terhadap kegiatan gotong-royong sudah cukup baik. Namun, ia menekankan perlunya kesepakatan bersama di tingkat RT, RW, hingga tokoh masyarakat agar kegiatan kerja bakti dilakukan secara rutin sepanjang tahun, bukan hanya menjelang peringatan kemerdekaan.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, gotong-royong juga dinilai perlu diperluas untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial di masyarakat. Bentuknya dapat berupa membantu warga kurang mampu, mendampingi kelompok rentan, hingga mendorong kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari nilai luhur bangsa.

"Misalnya setiap tokoh masyarakat mengajak untuk kita bersepakat bahwa kegiatan kerja bakti ini harus kita lakukan secara rutin tidak hanya pada bulan Agustus gitu. Jadi kita bisa mengubah mindset kegotong-royongan itu menjadi bukan kegiatan tetapi kebiasaan," ujarnya.

Dalam pengelolaan sampah, ia menegaskan perubahan perilaku harus dimulai dari rumah tangga melalui penerapan prinsip 3R, yakni reduce, reuse, and recycle. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membeli bahan baru untuk membuat kerajinan daur ulang saat lomba Agustusan karena bertentangan dengan prinsip pengurangan sampah.

Ia menambahkan, keberhasilan membangun budaya peduli lingkungan membutuhkan kolaborasi seluruh unsur pentahelix, yakni pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media. Melalui edukasi yang berkelanjutan, semangat gotong royong diharapkan menjadi bagian dari budaya masyarakat sehingga mampu menjaga kelestarian lingkungan sepanjang tahun.(im)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....