HUT ke-67, Perguruan Tri Susila Indonesia Tekankan Silat dan Pendidikan Karakter

  • 10 Agt 2026 10:20 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Purworejo – Perguruan Seni Bela Diri Pencak Silat Tri Susila Indonesia memperingati hari ulang tahun ke-67 dengan menegaskan kembali peran pencak silat sebagai sarana membentuk karakter dan menjaga nilai luhur. Peringatan yang digelar sederhana di Padepokan Tri Susila Indonesia, Kelurahan Cangkrep Kidul, Purworejo, Sabtu, 8 Agustus 2026 malam, juga menjadi momentum memperkuat persaudaraan antaranggota.

Ketua Umum Tri Susila Indonesia, Eko Satyawan, mengatakan pembinaan pesilat tidak hanya diarahkan pada kemampuan bertanding, tetapi juga pembentukan sikap dan kepribadian. “Harapan saya, harlah kali ini menjadikan pesilat yang tahu diri, tahu adab, serta tahu dan menghormati sesepuh atau gurunya,” ujarnya saat dikonfirmasi Senin, 10 Agustus 2026.

Menurut Eko, ilmu bela diri harus membentuk pribadi yang mandiri, tangguh, tanggap, tanggon, dan trengginas dengan tetap berpegang pada nilai Tri Susila. Prinsip tersebut menjadi landasan agar kemampuan pencak silat tidak digunakan untuk kesombongan maupun tindakan yang merugikan orang lain.

“Menjadi pesilat itu bukan hanya tentang kemampuan bersilat sendiri. Akan tetapi, bagaimana menjadi pesilat yang mandiri, tangguh, tanggap, tanggon, dan trengginas berdasarkan koridor Trisusila,” ucapnya.

Pembinaan pesilat juga dilakukan secara terbuka untuk berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga para sesepuh. Menurut Eko, proses tersebut memungkinkan setiap anggota saling belajar dan mengisi pengalaman dalam mengembangkan kemampuan bela diri.

“Mulai dari PAUD sampai dewasa atau sesepuh bisa bersama-sama saling mengisi. Belajar bagaimana cara bersilat yang baik,” katanya.

Selain pembinaan karakter, Tri Susila Indonesia terus mendorong anggotanya mengembangkan prestasi olahraga. Sejumlah atlet aktif mengikuti Popda, kejuaraan daerah, dan berbagai kompetisi di luar daerah, termasuk persiapan menghadapi kejuaraan tingkat Provinsi Jawa Tengah di GOR Jatidiri Semarang.

“Alhamdulillah, untuk atlet kami juga aktif di Popda, kemudian di berbagai kejuaraan dan kegiatan lainnya. Kejuaraan di luar kota juga alhamdulillah aktif,” jelas Eko.

Penasihat Tri Susila Indonesia, Lasiman, menjelaskan perguruan tersebut berdiri pada 9 Agustus 1959 di Dusun Joho, Cangkrep Kidul. Perguruan lahir atas inisiatif Almarhum Bapak Tugino, BA, sebagai respons terhadap perpecahan pemuda akibat perbedaan politik pada masa itu.

Dari latar belakang tersebut kemudian lahir ajaran Tri Susila yang terdiri atas Susila Pikir, Susila Perkataan, dan Susila Perbuatan yang menjadi pedoman bagi anggota untuk mengendalikan pikiran, ucapan, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari. “Kalau tiga susila itu bisa dilaksanakan, Insyaallah pemuda akan lebih terkendali, aman, dan mampu menjaga lingkungannya,” kata Lasiman.

Ia menjelaskan Susila Pikir mengajarkan anggota menjaga pikiran dari niat buruk, sedangkan Susila Perkataan mengarahkan seseorang menjaga ucapan agar tidak menyakiti orang lain. Sementara, Susila Perbuatan mengajarkan pengendalian kemampuan bela diri agar tidak digunakan untuk kesombongan.

Lasiman menambahkan pengamalan Tri Susila juga diarahkan untuk membentuk kondisi batin yang netral dan tidak mudah dikuasai nafsu maupun pengaruh negatif. Menurutnya, prinsip tersebut harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya ketika berada di lingkungan padepokan.

“Semua anggota Tri Susila harus bisa mengamalkan dalam sikap hidup sehari-hari. Kalau tiga susila itu sudah dipegang, insya Allah diri kita aman dan lingkungan kita juga aman,” pungkasnya.

Dalam waktu dekat, Perguruan Tri Susila Indonesia juga akan menggelar perayaan HUT pada September 2026 dengan agenda utama longmarch. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang mempererat persaudaraan sekaligus memperkuat pengamalan nilai luhur perguruan di tengah masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....