Perkuat Pencegahan Bullying, SMKN 7 Semarang Dampingi Korban Sekaligus Pelaku

  • 06 Agt 2026 15:59 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Penanganan kasus bullying di SMKN 7 Semarang tidak hanya berfokus pada pemulihan korban, tetapi juga memberikan pendampingan dan pembinaan terhadap pelaku. Langkah tersebut dilakukan agar penyelesaian kasus tidak berhenti pada pemberian perlindungan, tetapi juga mencegah terulangnya perilaku perundungan di lingkungan sekolah.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 7 Semarang, Rianto Pujo Nugroho, S.Pd., mengatakan setiap laporan dugaan bullying akan ditindaklanjuti dengan menggali informasi secara menyeluruh. Terutama, terkait kondisi yang dialami korban.

"Yang pertama kami kondisikan dulu terkait korban bullying. Kemudian kami menggali informasi dari korban mengenai apa yang sudah diterima, termasuk kondisi psikis maupun kondisi fisiknya," kata Rianto saat diwawancarai RRI Semarang, Kamis 6 Agustus 2026.

Menurutnya, setelah mendapatkan informasi dari korban, sekolah kemudian memanggil pihak-pihak terkait, termasuk pelaku, untuk dilakukan pendampingan. Proses pembinaan melibatkan guru Bimbingan dan Konseling (BK), wali kelas, serta orang tua siswa.

Pujo menegaskan, penyelesaian bullying tidak dapat dilakukan hanya dengan melihat kondisi korban. Pelaku juga menjadi bagian penting dalam proses penanganan karena perlu diberikan pemahaman mengenai dampak dari tindakan yang dilakukan.

"Bullying itu tidak bisa diselesaikan hanya pada sisi korban. Pelaku juga sangat penting ketika kita menangani bullying," katanya.

Selain penanganan kasus, SMKN 7 Semarang juga melakukan langkah pencegahan melalui edukasi kepada guru, tenaga kependidikan, dan siswa. Sosialisasi dilakukan untuk memberikan pemahaman mengenai pengertian bullying, bentuk-bentuk perundungan, dampaknya, serta cara mencegahnya.

Sekolah juga membangun budaya saling menghargai melalui keteladanan guru dan pembiasaan dalam aktivitas sehari-hari. Siswa diajak memahami bahwa setiap individu memiliki perbedaan yang harus dihormati.

Ia menyebut salah satu tantangan terbesar dalam mencegah bullying adalah membangun kesadaran siswa. Sebab, masih ada perilaku yang dianggap sebagai candaan, tetapi sebenarnya dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman.

"Kadang dari kita mungkin menganggap biasa, tetapi orang lain bisa menganggap itu luar biasa. Maka kami terus menyampaikan kepada anak-anak agar tidak menganggap candaan sebagai sesuatu yang wajar ketika sudah membuat orang lain tidak nyaman," jelasnya.

Ia berharap keterlibatan sekolah, guru, orang tua, dan seluruh warga sekolah dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi siswa. Dengan komunikasi yang terus dibangun, sekolah menargetkan setiap siswa dapat berinteraksi tanpa rasa takut dan terbebas dari tindakan bullying.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....