Hidupkan Lahan Tidur di Jateng, Drone hingga Irigasi Tetes Jadi Andalan Revola
- 29 Jul 2026 20:53 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Lahan tidur di Jawa Tengah kini disulap menjadi kawasan pertanian modern melalui Program Revolusi Lahan (Revola) Jateng. Teknologi seperti drone, alat pendeteksi kelembaban tanah, hingga sistem irigasi tetes (drip irrigation) menjadi andalan untuk mengembalikan lahan yang terbengkalai menjadi produktif.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan Revola mengusung konsep integrated smart farming atau pertanian terpadu berbasis teknologi. Program tersebut juga melibatkan kolaborasi antara petani senior yang berpengalaman dengan generasi muda yang menguasai teknologi.
"Pembagian tugasnya, petani generasi tua atau senior lebih pada pengolahan lahan sedangkan generasi muda menangani teknis yang berkaitan dengan teknologi smart farming seperti drip irrigation (irigasi tetes), drone, alat pendeteksi kelembaban tanah dan air, dan lainnya," katanya saat memaparkan program Revola Jateng Optimis kepada Gubernur Ahmad Luthfi di Semarang, Rabu 29 Juli 2026.
Sebagai proyek percontohan, Revola telah diterapkan di lahan seluas 10 hektare di Kabupaten Banjarnegara. Program ini melibatkan 22 pemangku kepentingan dan memberdayakan 625 kepala keluarga dalam mengelola lahan yang sebelumnya tidak produktif.
Lahan tersebut merupakan bekas Perkebunan Inti Rakyat (PIR) teh yang telah terbengkalai selama 12 tahun. Melalui Revola, lahan itu kembali dimanfaatkan untuk mendukung produksi pertanian, peternakan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Jadi ini lahan yang 12 tahun tidak dikerjakan apa-apa. Menariknya, ini lahan bekas PIR lokal teh yang akan dikembalikan ke masyarakat, Revola Jateng ini menjembatani untuk pengolahan lahan agar produktif," ujar Frans.
Pengelolaan lahan dilakukan secara terpadu dengan membagi kawasan berdasarkan komoditas yang dikembangkan. Sebagian lahan ditanami alpukat dan kopi, sebagian dimanfaatkan untuk peternakan ayam serta kambing atau domba, sementara area lainnya digunakan untuk hortikultura, jagung, dan padi.
Program tersebut mulai memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat yang terlibat. Dari hasil pertanian dan peternakan, nilai produksi diperkirakan mencapai sekitar Rp1,9 miliar, bahkan kawasan itu kini disiapkan menjadi destinasi agrowisata oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara.
"Ada 625 KK miskin yang terlibat di daerah itu. Kita harapkan bisa naik kelas menjadi tidak miskin," ucapnya.
Keberhasilan proyek percontohan di Banjarnegara membuat Pemprov Jawa Tengah bersiap memperluas pelaksanaan Revola ke daerah lain. Batang dan Pekalongan menjadi wilayah yang diprioritaskan karena juga memiliki eks lahan PIR yang berpotensi dikembangkan menjadi kawasan pertanian modern.
"Sudah ada beberapa daerah yang mengajukan. Ke depan akan kami coba arahkan ke daerah-daerah lain," kata Frans.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....