Puncak Perayaan Asadha, 12 Ribu Umat Buddha Semarakkan Kirab Puja Yatra Borobudur

  • 27 Jul 2026 15:43 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • kirab Puja Yatra Asadha  2570 Buddhis Era
  • Hari Raya Asadha 2570 BE/2026
  • Indonesia Tipitaka Chanting
  • Candi Mendut
  • Candi Borobudur
  • Candi Pawon

RRI.CO.ID, Kabupaten Magelang- Sekitar 12 ribu umat Buddha dari berbagai daerah mengikuti kirab Puja Yatra Asadha 2570 Buddhis Era/ 2026, sejauh tiga kilometer dari Candi Mendut melesati Candi Pawon dan berakhir di Candi Borobudur. Kirab Puja Yatra tersebut merupakan rangkaian puncak perayaan Hari Raya Asadha 2570 BE/2026 dan menutup kegiatan Indonesia Tipitaka Chanting

“Sekitar 12 ribu umat Buddha dari berbagai kota di Jawa Tengah, Daeah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur dan darah lainnya mengikuti Kirab Puja Yatra dari Candi Mendut hingga Candi Borobudur. Kirab ini dalam rangka merayakan Hari Raya Ashada atau hari raya terbesar umat Buddha setelah Waisak, “ kata Bagian Humas Indonesia Tipitaka Chanting dan Asalha Mahapuja 2026 Totok Tejamano di sela-sela prosesi Kirab puja Yatra, Minggu, 26 Juli 2026.

Totok mengatakan, di kalangan umat Buddha ada empat hari raya yakni, Waisak, Ashada Katina dan Magabuja. Hari Raya Asadha tersebut memperingati pertama kalinya Sang Buddha Gautama membabarkan ajaran Dharma di Taman Rusa Isipatana.

Menurutnya, Yatra Puja mempunyai makna suatu penghormatan perjalanan. Umat Buddha berjalan untuk menghormati Tiratana , Buddha, Dhamma, dan Sangha dengan simbol, salah satunya Candi Borobudur.

Ia menjelaskan, selama perjalanan sepanjang tiga kilometer dari Candi Mendut melewati Candi Pawon dan berakhir di Candi Borobudur, para umat melantunkan Buddha Nusati, Sangha Nusati. Mereka merenungkan kualitas Buddha, Dhamma, dan Sangha.

“Selama perjalanan, ribuan peserta tidak sekadar berjalan, melainkan melafalkan paritta Buddhanussati, Dhammanussati dan Sanghanussati sebagai bentuk perenungan terhadap kualitas Buddha, Dharma, dan Sangha. Karena itu, Puja Yatra dimaknai sebagai perjalanan meditatif sekaligus penghormatan kepada Tiratana,” katanya.

Ia menambahkan, pada prosesi kirab tersebut, peserta berjalan di belakang empat kereta kencana. Ada Kereta Kencana Mahadhatu, Kereta Relik, Kereta Tipitaka dana, serta Kereta Dhammacakka atau roda Dharma.

Salah seorang peserta asal Bekasi, Michel Limawan mengaku dirinya mengikuti kegiatan tersebut untuk keempat kalinya. Menurutnya, kesempatan mengikuti Indonesia Tipitaka Chanting dan puncak perayaan Asadha merupakan momen yang sangat berharga karena pembacaan sutta secara lengkap jarang dilakukan oleh umat awam.

“Sebagai umat Buddha mengikuti prosesi kirab Puja Yatra ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Apalagi di tahun ini bertepatan dengan peringatan 50 tahun Sangha Theravada Indonesia,“kata Michel Limawan. ( wied)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....