Asaḍha di Vihara Sima, Umat Napak Tilas Sejarah Kebangkitan Buddhisme Indonesia
- 25 Jul 2026 20:28 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Ratusan umat Buddha dari berbagai daerah di Jawa Tengah memadati Vihāra 2500 Buddha Jayanti – Sīmā Internasional Kassapa, Semarang, untuk mengikuti peringatan Asaḍha 2570 T.B./2026, Sabtu 25 Juli 2026. Perayaan ini tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga napak tilas sejarah kebangkitan agama Buddha di Indonesia.
Kegiatan yang digelar Pengurus Vihāra 2500 Buddha Jayanti bersama Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Kota Semarang itu berlangsung di Pelataran Joglo Sīmā Internasional Kassapa. Acara diikuti sekitar 500 umat yang tergabung dalam Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI) dari berbagai wilayah di Jawa Tengah.
Ketua Majelis Buddhayana Indonesia Kota Semarang, Romo Dariono, mengatakan Asaḍha merupakan peringatan saat Buddha membabarkan khotbah pertamanya. Momen tersebut menjadi pengingat bagi umat untuk terus meneladani ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, Bukit Kassapa dipilih sebagai lokasi peringatan karena memiliki nilai sejarah penting dalam perkembangan agama Buddha di Indonesia. Tempat tersebut menjadi salah satu titik awal kebangkitan kembali agama Buddha setelah mengalami masa panjang kevakuman.
"Di sinilah pemantik api semangat penyebaran agama Buddha di masa-masa awal kebangkitannya," kata Romo Dariono.
Ia menjelaskan, kawasan Sīmā Internasional Kassapa juga memiliki sejarah sebagai lokasi pentahbisan bhikkhu putra Indonesia pertama setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit. Pentahbisan itu dihadiri para bhikkhu dari berbagai negara seperti Thailand, Myanmar, Jepang, Sri Lanka, dan Kamboja.
Kehadiran tokoh-tokoh agama Buddha dari berbagai negara tersebut menjadi alasan kawasan itu dikenal sebagai Sīmā Internasional. Sejak saat itu, tempat tersebut menjadi salah satu situs penting dalam perjalanan sejarah Buddhisme modern di Indonesia.
Selain ibadah Asaḍha, kegiatan juga dimeriahkan dengan Pentas Sendratari Tunggak Semi Badra Santi – Tan Oei Ji Sian Seng. Pertunjukan itu mengangkat kisah persatuan tokoh Jawa dan Tionghoa dalam perjuangan melawan penjajah melalui cerita yang berakar dari sejarah Lasem.
Romo Dariono mengatakan sendratari tersebut dipilih karena mengandung pesan kuat tentang persatuan bangsa. Melalui kisah sejarah itu, generasi muda diajak memahami bahwa keberagaman justru menjadi kekuatan dalam membangun Indonesia.
"Jangan mudah diadu domba. Sejak awal perjuangan kemerdekaan, masyarakat Jawa dan Tionghoa sudah bersama-sama berkontribusi mengusir penjajah," ujarnya.
Salah seorang peserta, Dian, mengaku datang dari Boyolali bersama rekannya dari Temanggung khusus untuk mengikuti perayaan Asaḍha di Bukit Kassapa. Ia tertarik hadir karena penasaran dengan lokasi yang memiliki nilai sejarah penting bagi umat Buddha tersebut.
Menurut Dian, suasana vihara yang asri dan alami membuat umat dapat beribadah dengan lebih khusyuk. Lingkungan yang tenang juga memberikan pengalaman spiritual yang berbeda dibandingkan tempat ibadah lainnya.
"Bagus, nyaman, alami. Nyaman kalau buat kita ibadah," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....