Perang Timur Tengah Ganggu Usaha, Ekspor Furnitur Turun 50 Persen
- 20 Jul 2026 21:01 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Konflik di Timur Tengah mulai memberikan tekanan serius terhadap industri furnitur berorientasi ekspor. Selain mengganggu jalur distribusi internasional, kondisi tersebut turut memicu penurunan permintaan dari pasar global hingga membuat volume ekspor anjlok hingga 50 persen.
Dampak itu dirasakan PT Philnesia International, perusahaan furnitur kayu yang beroperasi di Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) Semarang. Perusahaan yang mempekerjakan sekitar 800 pekerja tersebut mengakui pasar ekspor saat ini sedang berada dalam kondisi yang tidak stabil.
Manajer Marketing PT Philnesia International, Emma, mengatakan pasar utama perusahaan berada di Eropa dan Amerika Serikat. Namun perlambatan ekonomi global dan dampak konflik geopolitik membuat permintaan dari kedua kawasan tersebut mengalami penurunan signifikan.
"Pasar Eropa dan Amerika saat ini memang sedang tidak stabil. Dampaknya sangat terasa dan hampir semua pabrik furnitur mengalami penurunan ekspor," katanya usai mendapatkan kunjungan Komisi VII DPR RI, Senin 20 Juli 2026 sore.
Sebelum pasar melemah, kapasitas ekspor PT Philnesia International mampu mencapai sekitar 140 kontainer setiap bulan. Kini, realisasi ekspor hanya berada di kisaran 50 hingga 60 persen dari kapasitas normal.
Menurut Emma, penurunan tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi industri furnitur sepanjang tahun ini. Kondisi itu memaksa perusahaan melakukan berbagai strategi agar tetap dapat mempertahankan produksi dan tenaga kerja.
"Kalau saat normal kapasitas kami sekitar 140 kontainer per bulan. Sekarang ekspor hanya sekitar 50 sampai 60 persen dari kapasitas tersebut," ujarnya.
Selain menekan permintaan, konflik Timur Tengah juga berdampak pada rantai pasok bahan baku impor. Sejumlah material yang didatangkan dari luar negeri mengalami kendala sehingga membutuhkan penyesuaian dalam proses produksi.
Meski demikian, perusahaan masih mampu menjaga operasional dengan mencari alternatif bahan baku yang tersedia. Langkah tersebut dilakukan agar pesanan pelanggan tetap dapat dipenuhi tanpa mengganggu jadwal produksi.
Di tengah penurunan ekspor, PT Philnesia International mulai memperkuat pasar domestik sebagai sumber pertumbuhan baru. Perusahaan juga aktif mencari peluang di pasar nontradisional untuk mengurangi ketergantungan terhadap Eropa dan Amerika Serikat.
"Karena pasar ekspor belum terlalu bagus, kami mencoba mengembangkan pasar lokal yang potensinya juga besar. Kami berusaha menggali peluang baru yang ada," kata Emma.
Ia pun berharap pemerintah dapat membantu promosi untuk membuka market baru. "Kami memang butuh market yang baru, enggak hanya di pasar Eropa ataupun pasar Amerika. Masih banyak pasar di negara lain yang bisa kita garap. Kita membutuhkan bantuan untuk promosi, memperkenalkan market yang ada di negara-negara di luaran. Kami bisa diajak untuk promosi ke luar," tandasnya.
Sementara itu, Ketua Tim Kunjungan Kerja Panja RUU Kawasan Industri Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, mengakui konflik Timur Tengah telah berdampak pada dunia usaha, khususnya sektor ekspor. Menurutnya, eksportir harus mencari jalur distribusi alternatif yang membuat biaya logistik meningkat dan waktu pengiriman lebih panjang.
"Kalau bagi eksportir tentu ada dampaknya karena akses distribusi mereka terganggu. Mereka harus mencari alternatif lain yang memakan waktu lebih panjang dan biaya transportasi yang lebih besar," ujar Evita.
Ia berharap konflik yang terjadi dapat segera mereda agar aktivitas perdagangan internasional kembali normal. Dengan membaiknya kondisi global, industri ekspor nasional diharapkan dapat kembali tumbuh dan memulihkan kinerja yang sempat tertekan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....