Minyak Jelantah Rp7.000 per Liter, PKK Jateng Ajak Warga Ubah Limbah Jadi Cuan
- 18 Jul 2026 08:00 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Minyak jelantah yang selama ini dianggap limbah rumah tangga kini didorong menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, meluncurkan Gerakan Minyak Jelantah Jadi Rupiah untuk mengembangkan ekonomi sirkular sekaligus mengurangi dampak pencemaran lingkungan.
Program yang diluncurkan dalam Kick Off Meeting di Wisma Perdamaian Semarang, Jumat 17 Juli 2026, itu menggandeng PT BioSirkular Inovasi Indonesia dan PT Gapura Mas Lestari. Melalui gerakan tersebut, masyarakat dapat menjual minyak jelantah dengan nilai Rp7.000 per liter melalui sistem pengelolaan yang terintegrasi.
Nawal mengatakan, program ini membuka peluang bagi keluarga untuk memperoleh tambahan pendapatan dari limbah yang selama ini dibuang begitu saja. Di sisi lain, langkah tersebut juga menjadi solusi untuk mengurangi kebiasaan penggunaan minyak goreng berulang yang berisiko bagi kesehatan.
Menurutnya, minyak jelantah yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan dan merusak ekosistem. Karena itu, pengelolaan limbah rumah tangga perlu dilakukan secara terarah agar memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Nawal menegaskan, keberhasilan program sangat bergantung pada keterlibatan keluarga, terutama para ibu sebagai pengelola rumah tangga. Kesadaran masyarakat menjadi faktor utama agar minyak jelantah dapat dikumpulkan dan diolah menjadi produk yang bernilai.
"Keberhasilan pengelolaan limbah minyak jelantah ini sangat bergantung sekali pada kesadaran dan partisipasi keluarga, terutama para ibu sebagai pengelola rumah tangga," tegasnya.
Untuk memperluas jangkauan program, kader PKK di desa dan kelurahan akan menjadi ujung tombak edukasi dan pengumpulan minyak jelantah. Gerakan ini juga akan diperkuat melalui jaringan Posyandu yang jumlahnya mencapai 49.149 lembaga di seluruh Jawa Tengah.
"Bukan hanya PKK, nanti kita juga melibatkan Posyandu yang jumlahnya 49.149 lembaga. Ini merupakan potensi yang luar biasa untuk kita bisa membentuk ekonomi sirkular di Jawa Tengah," beber Nawal.
Ia menjelaskan, konsep ekonomi sirkular menjadikan minyak jelantah tidak lagi dipandang sebagai sampah, melainkan bahan baku yang dapat dimanfaatkan kembali. Minyak tersebut dapat diolah menjadi biodiesel, bioavtur, maupun berbagai produk lain yang memiliki nilai ekonomi.
"Bagaimana minyak jelantah ini juga menjadi sumber untuk diolah menjadi biodiesel misalnya, atau bioaftur maupun berbagai produk bernilai ekonomi lainnya," ungkapnya.
Nawal menambahkan, pemanfaatan minyak jelantah juga telah mendukung pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Kilang Pertamina Cilacap. Hal itu menunjukkan bahwa limbah rumah tangga memiliki peran dalam mendukung transisi energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Keberhasilan program serupa di Kabupaten Batang menjadi salah satu contoh nyata potensi ekonomi dari pengelolaan minyak jelantah. Dalam waktu sekitar satu tahun sejak Juni 2025, program tersebut mampu menghasilkan omzet hingga Rp170 juta.
"Ini membuktikan bahwa limbah rumah tangga kini telah menjadi bagian dari transisi, menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan," imbuhnya.
Direktur PT BioSirkular Inovasi Indonesia, Dicka Dwi Candra, mengatakan program ini merupakan tindak lanjut nota kesepahaman yang ditandatangani pada peringatan Hari Bumi 2026. Pelaksanaannya dilakukan melalui edukasi masyarakat, penyediaan titik pengumpulan, penjemputan oleh operator, serta pencatatan digital hasil penjualan.
Menurut Dicka, setiap liter minyak jelantah yang terkumpul dihargai Rp7.000. Sebanyak Rp5.000 diberikan kepada warga, sedangkan Rp2.000 menjadi pemasukan bagi kas PKK desa.
Proses transaksi dilakukan secara digital sehingga hasil penjualan dapat dipantau secara transparan melalui aplikasi. Skema ini diharapkan mampu mendorong partisipasi masyarakat sekaligus memperkuat kelembagaan PKK dan Posyandu dalam pengelolaan lingkungan.
"Melalui program ini kita harap ekonomi sirkular berbasis rumah tangga akan aktif kembali dan menjadi penggerak untuk pembangunan keberlanjutan," kata Dicka.
Dalam kesempatan yang sama, TP PKK Jawa Tengah juga menandatangani nota kesepakatan dengan PT Pegadaian (Persero) Kanwil XI Semarang. Kerja sama tersebut diarahkan untuk mendukung pemberdayaan keluarga melalui gerakan pilah sampah yang dapat dikonversi menjadi tabungan emas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....