Festival Bubur Suro Naik Kelas, UMKM Ramaikan Panggung Ekonomi Syariah Pekalongan
- 11 Jul 2026 08:23 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Festival Bubur Suro Naik Kelas, 76 UMKM Ramaikan Panggung Ekonomi Syariah di Pekalongan
- Bank Indonesia Tegal
RRI.CO.ID, Pekalongan – Festival Bubur Suro di Kelurahan Krapyak, Kota Pekalongan, kini tak lagi sekadar menjadi tradisi menyambut Tahun Baru Islam. Memasuki penyelenggaraan ketujuh, festival tersebut bertransformasi menjadi panggung penguatan ekonomi syariah dengan menggandeng Syariah Festival Ekonomi Tegal (Syafaat) 2026, menghadirkan puluhan pelaku UMKM, edukasi transaksi digital, hingga pengenalan wakaf produktif.
Kegiatan bertajuk Syafaat Festival Bubur Suro 2026 Kota Pekalongan resmi dibuka Wakil Wali Kota Pekalongan Balgis Diab di Lapangan Krapyak, Jumat malam 10 Juli 2026. Kolaborasi ini melibatkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Pekalongan, Pemerintah Kota Pekalongan, dan panitia Festival Bubur Suro.
Sebanyak 76 stan UMKM menjadi daya tarik utama festival. Dari jumlah tersebut, 50 stan merupakan UMKM binaan Bank Indonesia Tegal, sementara sisanya diisi pelaku usaha lokal dari Krapyak dan sekitarnya. Balqis Diab menilai sinergi dengan Bank Indonesia dan MES membuat Festival Bubur Suro memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Festival ini sudah memasuki tahun ketujuh. Tahun ini lebih meriah karena berkolaborasi dengan BI Tegal dan MES. Tidak hanya menampilkan Bubur Suro, tetapi juga mendorong masyarakat lebih melek digital dan memahami literasi keuangan," ujarnya.
Menurut Balgis, Festival Bubur Suro memiliki potensi besar menjadi agenda budaya berskala nasional. Selama ini Krapyak dikenal lewat tradisi Lopis Raksasa dan sentra tenun, sementara Festival Bubur Suro dinilai mampu menjadi identitas budaya baru yang sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
"Pemerintah Kota siap mendukung agar kegiatan ini terus berkembang dan ke depan bisa menjadi event nasional," katanya.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal Seno Indarso mengatakan kolaborasi Syafaat dengan Festival Bubur Suro merupakan langkah strategis memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di daerah.
Mengusung tema "Sinergi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Masyarakat Regional Berkelanjutan melalui MES dan Transformasi Digital", festival ini dirancang tidak hanya sebagai perayaan budaya, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat.
"Kegiatan ini bertujuan meningkatkan ekosistem ekonomi syariah, mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembelanjaan UMKM, sekaligus melestarikan kebudayaan Kota Pekalongan," kata Seno.
Ia menilai Pekalongan memiliki modal kuat untuk berkembang sebagai kota ekonomi syariah karena didukung budaya Islam yang mengakar serta potensi ekonomi kreatif yang terus tumbuh.
Bank Indonesia juga mendorong Pekalongan menjadi kota wakaf sekaligus destinasi wisata ramah muslim dengan penguatan fasilitas ibadah, kuliner halal, musala, dan sarana pendukung wisata lainnya.
Sementara itu, Ketua MES Kota Pekalongan Andi Arslan Djunaid menilai Festival Bubur Suro merupakan aset budaya yang layak dipromosikan secara lebih luas.
Menurutnya, berbagai agenda budaya khas Pekalongan memiliki potensi besar mendongkrak ekonomi masyarakat apabila dikemas secara profesional dan dipublikasikan secara masif.
"Ketika sebuah event didatangi banyak orang, ekonomi kreatif dan UMKM pasti hidup. Ini menjadi pekerjaan bersama bagaimana event besar di Krapyak bisa dikemas, dipublikasikan, dan di-branding secara nasional," ujarnya.
Ketua Panitia Syafaat Bubur Suro 2026 Muhammad Iskandar menambahkan, festival tahun ini tidak hanya bertujuan mengangkat kuliner khas Bubur Suro, tetapi juga meningkatkan kemampuan pelaku UMKM dalam mengelola usaha.
"Harapannya, pelaku UMKM tidak hanya hebat berdagang, tetapi juga semakin cerdas mengelola keuangan dan usahanya," katanya.
Selain bazar UMKM, festival juga diisi berbagai kegiatan seperti lomba kuliner berbahan tepung beras, lomba mewarnai bertema "Cinta, Bangga, Paham Rupiah", lomba hadroh ibu-ibu, senam jantung sehat, donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga lomba burung berkicau.
Pada pembukaan acara juga diluncurkan Scan Wakaf dan penyerahan buku sebagai bagian dari edukasi wakaf produktif kepada masyarakat.
Puncak Festival Bubur Suro dijadwalkan berlangsung pada Minggu dengan agenda Gemar Bubur Suro, yakni pembagian bubur kepada masyarakat yang dimasak menggunakan beras hasil Program Wakaf Produktif dari lahan X Rock Pekalongan.
Mengusung tema "Krupo, Roso lan Dungo", Festival Bubur Suro 2026 ingin menegaskan bahwa tradisi bukan hanya warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak ekonomi rakyat.
Perpaduan budaya, literasi keuangan, digitalisasi transaksi, dan penguatan UMKM menjadi strategi untuk memperkuat posisi Pekalongan sebagai salah satu pusat pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....