Ratusan Kasus Kusta di Jateng, Gubernur Instruksikan Eliminasi Lewat Speling

  • 10 Jul 2026 19:46 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Ratusan kasus kusta masih ditemukan di Jawa Tengah sepanjang 2026, mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat upaya eliminasi penyakit tersebut. Gubernur Ahmad Luthfi mengandalkan program Dokter Spesialis Keliling (Speling) dan Cek Kesehatan Gratis untuk memperluas skrining serta deteksi dini di seluruh daerah.

Langkah itu disampaikan Luthfi saat menghadiri Konferensi Nasional Kusta 2026 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat 10 Juli 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia bersama gubernur lainnya membacakan komitmen untuk mempercepat eliminasi kusta di wilayah masing-masing.

Menurut Luthfi, kusta bukanlah penyakit kutukan karena sudah tersedia pengobatan yang efektif. Karena itu, penanganan harus diperkuat melalui berbagai program yang melibatkan seluruh pemerintah kabupaten dan kota.

"Bupati dan Walikota harus dikasih target, pemerintah Kabupaten/kota harus melakukan suatu terobosan untuk deteksi dini terkait kusta ini,” ucapnya.

Ia mengatakan, dinas kesehatan di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota harus memastikan penyintas mendapatkan pengobatan secara berkelanjutan. Upaya pemberantasan kusta juga tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh pihak.

Tingginya kasus kusta menjadi alasan penguatan deteksi dini di Jawa Tengah. Pada 2025 tercatat 1.541 kasus, sedangkan hingga triwulan II 2026 ditemukan sekitar 837 kasus.

Menurut Luthfi, tingginya temuan tersebut menunjukkan upaya deteksi dini berjalan cukup baik sehingga penderita dapat segera mendapatkan pengobatan. Dengan penanganan yang cepat, risiko penularan dan dampak penyakit dapat ditekan.

Karena itu, program Speling yang telah berjalan akan diperkuat dengan menambahkan skrining kusta. Data dari seluruh kabupaten dan kota akan dikumpulkan di tingkat provinsi untuk menjadi dasar intervensi yang lebih terarah.

Penyintas kusta akan mendapatkan pengobatan secara berkelanjutan tanpa terputus. Lama pengobatan bervariasi mulai enam hingga 12 bulan, bahkan ada yang mencapai 24 bulan sehingga kepatuhan menjalani terapi menjadi hal penting.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kusta merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan saat ini sudah tersedia obat untuk menyembuhkannya. Ia menegaskan bahwa penularan kusta tidak secepat penyakit yang disebabkan oleh virus.

"Kusta ini yang jadi masalah adalah telat terdeteksi, maka untuk mengeliminasi kusta harus ditingkatkan lagi (pendeteksiannya). Strateginya cuma satu, temukan sebanyak-banyaknya lalu diobati," katanya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....