Sapi Langka dan Mahal, Pedagang Daging di Salatiga Mogok Jualan
- 25 Jun 2026 16:18 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Salatiga - Pedagang daging sapi di Pasar Raya Salatiga menggelar aksi mogok berjualan mulai tanggal 22 hingga 26 Juni 2026. Aksi penghentian aktivitas jual beli ini terpaksa dilakukan sebagai bentuk keprihatinan atas kelangkaan pasokan sapi siap potong yang memicu lonjakan harga tajam di pasaran.
Salah satu perwakilan pedagang mengungkapkan bahwa kelangkaan stok sapi ini diduga kuat merupakan dampak jangka panjang dari wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Kondisi pasar juga menjadi semakin sulit akibat tingginya harga pakan ternak yang terus mengikuti fluktuasi kurs dolar.
"Waktu PMK dulu banyak sapi yang punah, sehingga pada akhirnya para petani menjadi ketakutan untuk kembali beternak sapi. Selain itu, harga polar atau pakan sapi juga ikut melambung tinggi karena harus mengikuti harga dolar," ujar Rika, pedagang di Pasar Raya Salatiga.
Akibat kelangkaan pasokan tersebut, harga beli sapi hidup dilaporkan melonjak drastis hingga menyentuh angka tiga sampai lima juta rupiah per ekor. Kenaikan harga modal yang tidak terkendali ini pada akhirnya memaksa para pedagang mematok harga daging sapi di angka Rp140 ribu per kilogram.
Meskipun sudah mematok harga tinggi, para pedagang mengaku pendapatan mereka tetap tidak sanggup menutupi lonjakan biaya modal operasional. Rantai distribusi dari tingkat penyuplai hingga pedagang eceran terus menanggung kerugian finansial yang sangat membebani setiap kali melakukan pemotongan sapi.
"Kami merasa resah dan bingung karena setiap hari selalu merugi, bahkan ada rekan pemotong satu ekor sapi yang merugi hingga tujuh juta rupiah. Sementara itu, untuk kelas pedagang pengecer seperti kami ruginya bisa mencapai angka dua juta rupiah setiap harinya," ucapnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan, aksi mogok ini murni terjadi karena para pedagang sudah tidak sanggup lagi menanggung beban kerugian operasional yang terus menumpuk. Aksi tersebut dipastikan bukan merupakan bentuk demonstrasi, melainkan langkah terpaksa untuk menghentikan kerugian harian.
Melambungnya harga daging sapi di pasaran ini juga memberikan dampak langsung pada tingkat daya beli masyarakat yang ikut menurun drastis. Banyak konsumen di Salatiga yang pada akhirnya memilih beralih mengonsumsi daging ayam maupun sumber protein lain karena harganya jauh lebih terjangkau.
Menghadapi krisis ini, para pedagang mendesak instansi terkait agar segera turun tangan mengambil langkah nyata demi menyelamatkan ekosistem pasar. Mereka meminta pemerintah menyalurkan subsidi pasokan sapi siap potong guna menstabilkan harga jual daging di wilayah Salatiga.
Langkah stabilisasi harga ini sangat dibutuhkan agar kelangsungan usaha para pedagang kecil dapat segera terselamatkan. Selain itu, intervensi pemerintah juga diharapkan dapat membuat beban pengeluaran masyarakat selaku konsumen tidak lagi semakin berat. (eka)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....