Inflasi Dipengaruhi Banyak Faktor, Pengamat Soroti Impor dan Pasokan Barang
- 21 Jun 2026 09:04 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dinilai tidak menjadi satu-satunya faktor yang mendorong inflasi di Indonesia. Pengamat ekonomi Universitas Negeri Semarang (UNNES), Bayu Bagas Hapsoro, mengatakan inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum yang dipengaruhi berbagai faktor.
Menurut Bayu, kenaikan harga BBM masuk dalam kategori cost push inflation atau inflasi yang dipicu oleh kenaikan biaya produksi. Dampaknya cukup signifikan terutama pada sektor-sektor strategis yang berkaitan dengan transportasi dan layanan publik.
Namun demikian, Bayu menilai dampak kenaikan BBM non-subsidi terhadap inflasi saat ini masih relatif terbatas karena yang mengalami penyesuaian harga bukan jenis BBM bersubsidi yang banyak digunakan masyarakat.
"BBM hanya salah satu faktor yang mendorong inflasi. Ada faktor lain yang justru memiliki pengaruh besar, seperti kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat," kata Bayu Jumat 19 Juni 2026.
Ia menjelaskan, ketergantungan Indonesia terhadap berbagai komoditas impor seperti gandum, bahan baku industri, serta produk farmasi membuat pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan harga barang di dalam negeri. Kondisi tersebut pada akhirnya akan mendorong kenaikan harga jual kepada konsumen.
Bayu mencontohkan, kenaikan harga gandum yang dibarengi dengan meningkatnya biaya transportasi akibat harga energi yang lebih mahal. Kondisi demikian memberikan tekanan berlapis terhadap harga berbagai produk konsumsi masyarakat.
Untuk mengendalikan inflasi, Bayu menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan ketersediaan stok barang-barang strategis agar tidak terjadi kelangkaan yang memicu lonjakan harga.
"Ketika pasokan terjaga, masyarakat tidak akan terlalu merasakan dampak kenaikan harga. Sebaliknya, jika stok berkurang atau terjadi kelangkaan, harga akan lebih mudah melonjak," katanya.
Selain menjaga pasokan, peningkatan daya beli masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Bayu menilai kondisi kelas menengah saat ini perlu mendapat perhatian karena konsumsi domestik masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga saat ini masih sangat ditopang oleh konsumsi dalam negeri. Karena itu, menjaga daya beli masyarakat dan keberlangsungan sektor usaha, khususnya UMKM dan sektor informal, menjadi langkah penting untuk menahan tekanan inflasi," ucap Bayu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....