Tirakatan Malam Suro di Makam Atas Angin Purworejo Jadi Momentum Introspeksi Diri
- 16 Jun 2026 14:54 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Purworejo – Tirakatan malam 1 Suro di Petilasan dan Makam Atas Angin, Desa Popongan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, menjadi momentum bagi masyarakat untuk melakukan introspeksi diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Tradisi yang digelar turun-temurun itu juga dimaknai sebagai upaya melestarikan nilai budaya dan mengenang jasa para leluhur.
Ratusan warga Dusun Karangjati, RW 04, Desa Popongan, mengikuti tirakatan malam 1 Suro atau 1 Muharam 1448 Hijriah pada Senin, 15 Juni 2026 malam. Kegiatan tersebut dipusatkan di kawasan Petilasan dan Makam Atas Angin yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat setempat.
Rangkaian acara diisi dengan mujahadah, pembacaan Surat Yasin, tahlil, dan doa bersama. Warga juga membawa sekitar 17 tumpeng dan 17 ingkung untuk kenduri atau walimahan yang kemudian disantap bersama sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.
Kepala Dusun Karangjati, Sumarman, mengatakan tirakatan malam 1 Suro bukan sekadar rutinitas tahunan. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat memanjatkan doa agar diberikan kesehatan, keselamatan, keberkahan, serta dijauhkan dari berbagai musibah.
"Kegiatan ini sudah kami laksanakan sejak 2017 dan rutin setiap malam 1 Suro. Peserta tidak hanya dari Karangjati, tapi juga dari Ngombol, Semawung, hingga luar Purworejo," kata Sumarman.
Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Popongan, Heru Wibowo, menjelaskan, malam 1 Suro bagi masyarakat Jawa menjadi saat yang tepat untuk melakukan perenungan diri. Momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan spiritual sekaligus mengingat jasa para pendahulu.
"Intinya kami mengingat Allah SWT, Rasulullah, dan jasa para pendahulu. Ini bentuk nguri-uri budaya Jawa sekaligus pengingat agar manusia tidak lupa asal-usul," ujar Bowo.
Kawasan Atas Angin diyakini memiliki nilai historis karena dikaitkan dengan sejumlah tokoh penting pada masa lampau. Sejumlah nama seperti Eyang Sutotruno, Ratu Ayu Atas Angin, Bendara Raden Ayu Ageng Serang, hingga tokoh pada masa Perang Diponegoro dipercaya pernah singgah atau dimakamkan di wilayah tersebut.
Tirakatan berlangsung tertib hingga larut malam dengan diikuti masyarakat dari berbagai daerah. Warga berharap tradisi ini dapat terus dilestarikan sebagai identitas budaya Desa Popongan sekaligus menjadi sarana mempererat kerukunan antarwarga. (Ags)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....