Harga Pertamax Naik, Bank Indonesia Bergerak Jaga Stabilitas Harga di Jateng

  • 11 Jun 2026 19:17 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter berpotensi memberi tekanan terhadap inflasi, terutama melalui kenaikan biaya distribusi dan produksi. Namun, Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah memastikan berbagai langkah pengendalian telah disiapkan agar dampaknya tidak meluas ke harga kebutuhan pokok masyarakat.

Kepala Perwakilan BI Jawa Tengah, Noor Nugraha, mengatakan salah satu upaya yang dilakukan adalah menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali melalui kebijakan moneter. Hal itu tercermin dari keputusan Bank Indonesia yang kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 9 Juni 2026,

"Targetnya ya tetap di inflasinya. Mudah-mudahan tetap dalam target 2,5 + 0,1," ujarnya, Kamis, 11 Juni 2026.

Menurut Noor, kenaikan harga BBM memang memiliki efek tidak langsung terhadap inflasi karena memengaruhi ongkos distribusi dan biaya produksi berbagai komoditas. Kendati demikian, ia optimistis dampak tersebut masih dapat diantisipasi melalui kombinasi kebijakan moneter dan penguatan distribusi pangan di daerah.

"Ada efek tidak langsungnya lah karena ke biaya distribusi dan biaya produksi juga naik. Mudah-mudahan sih bisa diantisipasi," ucapnya.

Selain menjaga stabilitas makroekonomi, BI Jawa Tengah juga mendorong penguatan rantai pasok pangan untuk menekan gejolak harga. Langkah tersebut dilakukan dengan mempertemukan daerah penghasil, pelaku usaha, dan offtaker lokal agar komoditas yang diproduksi di Jawa Tengah lebih banyak diserap dan dipasarkan di dalam wilayah sendiri.

Noor menjelaskan, secara keseluruhan Jawa Tengah merupakan daerah surplus pangan karena memiliki kapasitas produksi yang besar. Namun, ketimpangan antara daerah penghasil dan daerah konsumen masih menjadi tantangan yang menyebabkan harga sejumlah komoditas tetap tinggi di beberapa wilayah.

Ia mencontohkan Kota Semarang misalnya, yang tidak memiliki lahan pertanian luas sehingga bergantung pada pasokan dari daerah sekitar seperti Kabupaten Semarang dan Magelang. Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah daerah lain yang mengalami defisit produksi untuk komoditas tertentu sehingga membutuhkan pasokan dari wilayah yang surplus.

Melalui pemetaan daerah surplus dan defisit tersebut, BI bersama para pemangku kepentingan berupaya memperlancar distribusi antardaerah. Strategi ini diharapkan mampu menjaga ketersediaan barang sekaligus menekan kenaikan harga yang dapat dipicu oleh peningkatan biaya transportasi akibat naiknya harga BBM.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....