Generasi Instan Rentan Rapuh, Nawal Ingatkan Jaga Kesehatan Mental Anak

  • 09 Jun 2026 17:51 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Kemudahan teknologi digital yang membuat segala kebutuhan dapat diakses dalam hitungan detik dinilai membawa tantangan baru bagi tumbuh kembang anak. Di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul ancaman menurunnya daya juang dan ketahanan mental generasi muda jika tidak diimbangi pola pengasuhan yang tepat.

Bunda PAUD Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, mengatakan disrupsi teknologi telah mengubah cara anak-anak belajar, berinteraksi, dan memandang kehidupan. Kondisi itu turut memengaruhi pembentukan karakter serta kesehatan mental anak sejak usia dini.

Menurut Nawal, anak-anak saat ini terbiasa mendapatkan berbagai hal secara instan melalui teknologi digital. Kebiasaan tersebut berpotensi membuat mereka kurang terbiasa menghadapi proses, tantangan, dan kegagalan yang merupakan bagian penting dalam kehidupan.

Ia menilai situasi tersebut berbeda dengan generasi sebelumnya yang harus berjuang lebih keras untuk memperoleh sesuatu. Akibatnya, banyak anak tumbuh dengan daya tahan mental yang lebih rendah ketika menghadapi tekanan atau masalah.

"Mau beli bakso tinggal klik, mau apa tinggal klik. Semua ada di genggaman. Kita mungkin dulu masih harus effort luar biasa untuk meraih suatu hal. Sehingga ini menjadi pemicu besar adanya kesehatan mental Gen Z ini yang menjadi rapuh," jelas Nawal usai menjadi narasumber dalam kegiatan parenting di TK Ma’had Islam, Kota Pekalongan, Senin 8 Juni 2026.

Karena itu, Nawal mengajak orang tua, guru, dan lingkungan sekitar untuk bersama-sama memperkuat karakter anak. Menurutnya, kesehatan mental harus menjadi perhatian utama agar generasi muda mampu menghadapi perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.

Selain pengaruh teknologi, Nawal menyoroti tingginya ekspektasi orang tua yang kerap menjadi sumber tekanan bagi anak. Tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar memaksa anak mencapai target yang belum sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Ia mencontohkan, sebagian orang tua merasa khawatir ketika melihat anak lain sudah mampu membaca atau menulis lebih cepat. Perbandingan tersebut kemudian mendorong orang tua memberikan tekanan agar anaknya mampu mencapai kemampuan yang sama.

Padahal, setiap anak memiliki tahapan tumbuh kembang yang berbeda-beda. Pemaksaan target yang tidak sesuai usia justru dapat menimbulkan stres dan mengganggu perkembangan mental anak.

"Akhirnya ekspektasi tinggi ini mengakibatkan kita sering melampiaskan ini dengan emosi. Emosi-emosi untuk ayo cepat belajar. Kalau tidak bisa-bisa ya menjadi emosi sendiri, yang kemudian anak ini menjadi tertekan," ungkap Nawal.

Untuk itu, ia mendorong penerapan disiplin positif dalam pola pengasuhan sehari-hari. Pendekatan tersebut menempatkan orang tua sebagai pendamping yang memahami kebutuhan dan perkembangan anak sesuai usianya.

Pada usia 0 hingga 6 tahun, anak membutuhkan stimulasi dan layanan yang mendukung proses tumbuh kembang secara optimal. Memasuki usia 6 hingga 10 tahun, anak perlu dibiasakan dengan disiplin yang konsisten untuk membangun tanggung jawab.

Sementara pada usia 11 hingga 15 tahun, peran orang tua lebih diarahkan sebagai sahabat dan pendamping yang siap mendengarkan berbagai persoalan anak. Pendekatan ini dinilai penting untuk membangun kedekatan emosional sekaligus menjaga kesehatan mental remaja.

Nawal berharap pola pengasuhan yang tepat dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental. Dengan bekal tersebut, anak-anak diharapkan mampu menghadapi tantangan era digital tanpa kehilangan daya juang dan karakter positifnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....