Harga Cabai - Bawang Melonjak, Inflasi Jawa Tengah Tetap Terkendali

  • 06 Jun 2026 08:48 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Ditengah kenaikan harga cabai dan bawang yang terjadi di sejumlah daerah tidak menggoyahkan stabilitas harga di Jawa Tengah. Pada Mei 2026, inflasi provinsi ini tetap terjaga dalam rentang sasaran 2,5±1 persen meski tekanan harga pangan meningkat.

Secara bulanan, Jawa Tengah mengalami inflasi sebesar 0,23 persen (month to month/mtm) pada Mei 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi 0,03 persen, namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,28 persen.

Pelaksana Harian Kepala Kantor Bank Indonesia Jawa Tengah, Anggis Rakhmi, mengatakan tekanan inflasi terutama berasal dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Kelompok ini memberikan andil inflasi sebesar 0,07 persen seiring naiknya harga sejumlah komoditas hortikultura.

"Komoditas penyumbang inflasi pada kelompok tersebut antara lain cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit seiring dengan penurunan produktivitas akibat perubahan cuaca ekstrim, serangan organisme pengganggu tumbuhan, dan kekeringan yang terjadi di sejumlah sentra produksi seperti Temanggung untuk cabai, serta Pati dan Demak untuk bawang merah," ujarnya melalui keterangan tertulis, Jumat 5 Mei 2026.

Selain faktor produksi, meningkatnya permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional Iduladha dan musim hajatan turut mendorong kenaikan harga. Kondisi tersebut membuat pasokan di pasar menjadi lebih terbatas dibandingkan kebutuhan masyarakat.

Tekanan harga juga datang dari komoditas minyak goreng yang mengalami kenaikan. Peningkatan biaya produksi dan terbatasnya pasokan, termasuk akibat naiknya harga bahan kemasan plastik, menjadi faktor yang memengaruhi harga di tingkat konsumen.

Meski demikian, laju inflasi pangan berhasil tertahan oleh turunnya harga telur ayam ras dan daging ayam ras. Melimpahnya pasokan di tingkat peternak membuat kedua komoditas tersebut memberikan andil deflasi dan membantu meredam tekanan inflasi lebih lanjut.

"Kemudian, inflasi juga disumbang oleh Kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan (andil: 0,06%;mtm). Komoditas telepon seluler kembali mengalami inflasi seiring dengan kenaikan harga komponen elektronik seperti chipset dan memory akibat keterbatasan pasokan yang dipengaruhi oleh peningkatan permintaan untuk kebutuhan industri kecerdasan buatan," paparnya.

Selain itu, menurutnya kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga turut menyumbang inflasi. Faktor utamanya adalah penyesuaian harga LPG non-subsidi yang dilakukan mengikuti perkembangan harga energi di pasar internasional.

Di sisi lain, inflasi yang lebih tinggi berhasil ditekan oleh deflasi pada Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya. Penurunan harga emas perhiasan seiring koreksi harga emas global menjadi faktor utama yang menahan laju kenaikan inflasi.

Secara spasial, seluruh kota yang menjadi cakupan Indeks Harga Konsumen di Jawa Tengah mengalami inflasi pada Mei 2026. Kenaikan harga komoditas hortikultura menjadi faktor dominan yang memengaruhi hampir seluruh wilayah.

Inflasi bulanan tertinggi terjadi di Surakarta, Kudus, dan Cilacap yang masing-masing mencatatkan inflasi sebesar 0,31 persen. Sementara Kota Semarang mencatat inflasi 0,16 persen dan menjadi salah satu daerah dengan kenaikan harga yang relatif lebih rendah.

Secara tahunan, inflasi di seluruh kota IHK Jawa Tengah masih berada dalam rentang yang terkendali. Cilacap menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi sebesar 3,22 persen, disusul Wonogiri 3,02 persen dan Kota Tegal 2,90 persen.

"Ke depan, untuk menjaga inflasi berada pada rentang sasaran, Bank Indonesia bersama dengan para pemangku kepentingan di daerah yang tergabung dalam Forum TPID Provinsi Jawa Tengah dan TPID Kota/Kabupaten se-Jawa Tengah akan terus berkoordinasi dan bekerja sama melaksanakan berbagai program pengendalian inflasi," tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....