Nilai Dolar Melonjak, Perajin Batik Pekalongan Menjerit Biaya Produksi Naik
- 06 Jun 2026 05:43 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Nilai Dolar Melonjak, Perajin Batik Pekalongan Menjerit Biaya Produksi Naik
- Nilai Tukar Dolar tembus Rp 18.095, Sabtu 6 Juni 2026
RRI.CO.ID, Pekalongan – Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat kembali menjadi mimpi buruk bagi para perajin batik di Pekalongan. Ketergantungan terhadap sejumlah bahan baku impor membuat pelaku industri batik harus menghadapi lonjakan biaya produksi di tengah daya beli masyarakat yang masih lesu.
Sejumlah perajin Pekalongan mengaku harga bahan baku seperti kain katun, katun combed, hingga pewarna batik sintetis maupun pewarna alam terus merangkak naik seiring menguatnya dolar terhadap rupiah. Kondisi ini membuat margin keuntungan semakin tergerus karena kenaikan biaya produksi tidak selalu bisa diimbangi dengan kenaikan harga jual.
“Yang paling terasa adalah bahan baku batik, Banyak komponen produksi masih bergantung pada pasar internasional seperti kain dan obat pewarna, Ketika dolar naik, biaya produksi langsung ikut melonjak,” ujar Owner Batik Blonteng, Kelurahan Krapyak, Kota Pekalongan, Miladia Huda, Sabtu 6 Juni 2026.
Menurutnya Huda kondisi tersebut sudah berlangsung sejak dia bukan ini, dampaknya membuat industri batik Pekalongan sangat rentan terhadap gejolak kurs karena sebagian bahan baku masih dipengaruhi harga impor. Bahkan dalam kondisi pelemahan rupiah sebelumnya, keuntungan perajin disampaikan merosot hingga 40 persen akibat meningkatnya biaya produksi.
“Untuk harga obat tidak begitu berpengaruh namun untuk kenaikan harga kain yang terus naik dari Rp 30 ribu hingga Rp40 ribu/ pcs sangat berdampak pada biaya produksi. Saat ini nilai tukar dolar terus menguat hingga mencapai Rp18.095," terangnya.
Di sisi lain, para perajin menghadapi dilema besar, Jika harga batik dinaikkan untuk menutup biaya produksi, konsumen berpotensi mengurangi pembelian. Namun jika harga dipertahankan, keuntungan usaha semakin menipis.
Fenomena serupa juga dirasakan Pembatik Ekologi atau Warna alam Batik Banjir, Krisnowati yang mengeluhkan kenaikan harga kain, hingga berbagai aksesori produksi yang terdampak penguatan dolar. Pada saat bersamaan, permintaan pasar justru melemah sehingga banyak pembatik kecil kesulitan menjaga keberlangsungan produksi.
“Kalau upaya yang kami lakukan akibat harga bahan baku naik itu ya terpaksa mengurangi stok produksi, hanya melayani pesanan saja tidak berani menimbun stok batik,” terangnya.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa industri batik, yang selama ini menjadi ikon ekonomi kreatif Pekalongan, akan semakin tertekan apabila nilai tukar rupiah terus melemah.
Pelaku usaha batik berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas nilai tukar serta memperkuat ketersediaan bahan baku dalam negeri agar industri batik tidak terus menerus menjadi korban gejolak ekonomi global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....