Krisis Timur Tengah Membayangi, Ekonomi Jateng Tetap Tumbuh Tertinggi di Jawa

  • 06 Jun 2026 01:29 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap perekonomian global, terutama terkait potensi lonjakan harga energi, pelemahan nilai tukar, dan tekanan inflasi. Namun di tengah ancaman tersebut, perekonomian Jawa Tengah tetap menunjukkan daya tahan yang kuat dengan pertumbuhan yang mengungguli provinsi lain di Pulau Jawa.

Hingga April 2026, sinergi antara APBN dan APBD di Jawa Tengah berjalan efektif dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Kolaborasi fiskal tersebut mampu menopang daya beli masyarakat sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Jawa Tengah, Bayu Andy Prasetya memaparkan pada triwulan I 2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh sebesar 5,89 persen secara tahunan atau 1,85 persen secara kuartalan. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa dan berkontribusi sebesar 14,50 persen terhadap total perekonomian regional Jawa.

Kinerja ekonomi daerah didorong oleh meningkatnya aktivitas sektor jasa dan konsumsi masyarakat. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi, mencapai 14,14 persen secara tahunan.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ditopang oleh lonjakan konsumsi pemerintah yang meningkat 19,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. "Nilai Produk Domestik Regional Bruto Jawa Tengah pada triwulan I 2026 tercatat mencapai Rp511,99 triliun," ujarnya.

Disebutkannya, di tengah ancaman inflasi global akibat gejolak geopolitik ini, Jawa Tengah justru mampu menjaga stabilitas harga. Pada April 2026, daerah ini mengalami deflasi bulanan sebesar 0,03 persen sehingga inflasi tahunan terkendali di level 2,11 persen atau lebih rendah dibandingkan nasional yang mencapai 2,42 persen.

"Optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi juga terus menguat. Indeks Keyakinan Konsumen Jawa Tengah pada April 2026 meningkat menjadi 121,8 dan berada jauh di atas ambang optimistis," tuturnya, Kamis 4 Juni 2026.

Sejumlah indikator kesejahteraan turut menunjukkan tren positif, seperti tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,24 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai 4,74 persen. Persentase penduduk miskin juga terus menurun dan tercatat sebesar 9,39 persen dan ketimpangan pendapatan tetap terjaga pada level rendah dengan rasio gini sebesar 0,350.

Ketahanan ekonomi Jawa Tengah juga tercermin dari kualitas pembangunan manusianya. Indeks Pembangunan Manusia mencapai 74,77 atau masuk kategori tinggi, dengan Kota Salatiga menjadi daerah dengan capaian tertinggi.

Di sektor fiskal, pengelolaan APBN di Jawa Tengah hingga April 2026 mencatatkan surplus sebesar Rp5,67 triliun. Surplus tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan negara yang tumbuh 9,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

"Realisasi pendapatan negara mencapai Rp39,08 triliun atau hampir 30 persen dari target tahunan. Penerimaan perpajakan menjadi kontributor utama dengan nilai Rp36,28 triliun dan pertumbuhan mencapai 9,41 persen," katanya.

Belanja negara juga menunjukkan akselerasi yang kuat, terutama pada belanja modal yang melonjak lebih dari 163 persen. Kondisi ini mencerminkan percepatan pembangunan dan investasi pemerintah dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah.

Di tingkat daerah, APBD konsolidasi 36 pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Tengah juga berada dalam kondisi sehat. Hingga April 2026, APBD mencatatkan surplus Rp10,95 triliun dengan saldo SiLPA mencapai Rp12,36 triliun.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....