Sawah Petani Tinanding Tertimbun Lumpur Pascabanjir, Pengerukan Jadi Solusi

  • 28 Mei 2026 13:43 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Sawah petani di Desa Tinanding, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan tertimbun lumpur pascabanjir akibat jebolnya Tanggul Sungai Tuntang pada Februari 2026. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun menilai pengerukan menjadi solusi paling memungkinkan untuk mengatasi sedimentasi yang menghambat aliran air irigasi ke lahan pertanian warga.

Persoalan sawah tertimbun lumpur itu mencuat saat Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah, Sumarno, berdialog dengan warga di Halaman Masjid Roudlotul Jannah, Desa Tinanding, Rabu, 27 Mei 2026. Dalam pertemuan tersebut, seorang petani bernama Sumarsih menyampaikan keluhan terkait sawah miliknya seluas 1,5 hektare yang hingga kini belum dapat ditanami.

Menurut Sumarsih, endapan lumpur membuat elevasi tanah sawah menjadi lebih tinggi dibanding lahan di sekitarnya, sehingga air tidak dapat masuk dan menggenangi area pertanian miliknya. “Saya pengin sawahnya dikeruk saja supaya bisa ditanam lagi,” ujar Sumarsih di hadapan Sekda Jateng.

Mendengar aspirasi tersebut, Sumarno bersama jajaran terkait langsung meninjau lokasi sawah warga untuk memastikan tingkat sedimentasi sekaligus menentukan langkah penanganan yang tepat. Berdasarkan hasil pengecekan lapangan, pengerukan tanah dinilai menjadi solusi paling realistis agar elevasi sawah kembali sejajar dengan lahan di sekitarnya dan aliran air dapat kembali normal.

“Solusinya ya harus dikeruk. Disamakan elevasinya dengan sawah di sebelahnya, supaya air bisa menggenangi area sawah yang sekarang tertimbun,” jelas Sumarno.

Ia menambahkan, kawasan Desa Tinanding dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) masuk kategori Lahan Sawah Dilindungi (LSD). Kawasan itu memiliki tingkat kesuburan tinggi dan berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan.

Selain itu, tanggul yang jebol sebelumnya merupakan bagian dari saluran induk irigasi yang vital bagi pertanian di Grobogan. Oleh karena itu, percepatan penanganan dinilai penting agar produktivitas pertanian warga tidak terus terganggu.

“Kalau dari RTRW pasti ini masuk LSD karena memang ini daerah subur. Bisa dilihat di sebelah-sebelahnya, sekarang juga masih ditanami dan tumbuh cukup hijau,” tambahnya.

Pemprov Jawa Tengah melalui tim perencanaan berkomitmen segera merumuskan langkah teknis penanganan pascabencana di wilayah tersebut. Koordinasi lintas pihak akan dilakukan agar persoalan sedimentasi lumpur segera tertangani dan petani dapat kembali mengolah sawahnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....