Perubahan Cuaca dan Mobilitas Tinggi Picu Ancaman DBD, Salatiga Perkuat Mitigasi

  • 22 Mei 2026 04:32 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Salatiga — Perubahan iklim dan tingginya mobilitas disebut menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di tengah masyarakat. Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kota Salatiga memperkuat langkah mitigasi dan pengendalian DBD melalui sinergi lintas sektor serta penguatan edukasi kepada masyarakat.

Komitmen tersebut ditegaskan Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan saat memberikan arahan dalam Pertemuan Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) DBD Kota Salatiga Tahun 2026, Selasa, 19 Mei 2026. Menurutnya, ancaman penularan DBD saat ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari perubahan iklim, tingginya mobilitas penduduk, hingga kondisi kebersihan lingkungan.

Robby menilai penanganan DBD tidak dapat hanya dibebankan kepada sektor kesehatan semata. Ia meminta seluruh unsur pemerintahan, mulai tingkat kota hingga kelurahan, ikut bergerak memperkuat pencegahan di lingkungan masing-masing.

Salah satu langkah yang ditekankan yakni memasifkan edukasi gerakan 3M Plus secara berkelanjutan kepada masyarakat. Upaya tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kewaspadaan dini warga dalam mengenali gejala DBD sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.

Ia berharap forum koordinasi Pokjanal DBD tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan. Pertemuan tersebut diminta mampu menghasilkan rencana aksi nyata serta indikator keberhasilan yang dapat dirasakan langsung masyarakat.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Salatiga, Suhardi memaparkan perkembangan terbaru kasus DBD hingga pekan kedua Mei 2026. Berdasarkan data epidemiologi, tercatat satu kasus Demam Berdarah Dengue, 19 kasus Demam Dengue, serta dua kasus Dengue Shock Syndrome.

Dari hasil analisis demografi, tren kasus DBD di Salatiga saat ini didominasi kelompok usia produktif. Selain itu, penderita perempuan tercatat lebih banyak dengan persentase mencapai 61 persen atau sebanyak 13 orang.

Suhardi menegaskan data tersebut harus menjadi alarm kewaspadaan bagi seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, pemantauan jentik secara berkala serta pemberantasan sarang nyamuk secara mandiri menjadi kunci utama untuk memutus rantai penularan DBD di masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....