Tangkal Hoaks, Bunda Literasi Jateng Ubah Perpustakaan Jadi Pusat Edukasi Digital

  • 19 Mei 2026 09:24 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Bunda Literasi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, menggenjot penguatan literasi digital sebagai langkah strategis menangkal maraknya hoaks di tengah masyarakat. Upaya tersebut dilakukan dengan mendorong perpustakaan bertransformasi menjadi pusat edukasi digital yang mampu meningkatkan daya pikir kritis masyarakat.

Menurut Nawal, kemampuan memahami informasi secara bijak menjadi kebutuhan penting di era digital. Hal itu disampaikan Nawal usai menjadi narasumber kegiatan Penguatan Gerakan Literasi Digital Perpustakaan: Digital Cerdas–Gemar Membaca di Pendopo Kabupaten Pati, Senin, 18 Mei 2026.

Masyarakat perlu dibekali keterampilan memilah informasi yang kredibel agar tidak mudah terpengaruh kabar bohong yang beredar luas di media sosial maupun platform digital lainnya. “Kita perlu mendampingi masyarakat untuk mengembangkan kecerdasan melalui literasi digital, agar mampu berpikir kritis dan memahami mana informasi yang kredibel dan mana yang hoaks,” katanya.

Untuk memperkuat gerakan tersebut, Nawal menegaskan perlunya kolaborasi lintas sektor hingga tingkat akar rumput. Sesuai arahan Gubernur Ahmad Luthfi, penguatan literasi digital melibatkan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades), hingga para bunda literasi di 35 kabupaten/kota.

Nawal mengatakan, perpustakaan memiliki peran penting dalam mendukung peningkatan literasi digital masyarakat. Tidak hanya menjadi ruang membaca, perpustakaan diharapkan mampu menjadi pusat pembelajaran teknologi dan penguatan wawasan masyarakat di tengah cepatnya perkembangan informasi.

Modal penguatan literasi tersebut dinilai cukup besar, karena Jawa Tengah kini memiliki 2.681 perpustakaan yang telah terakreditasi dan memenuhi Standar Nasional Perpustakaan (SNP) dari Perpustakaan Nasional RI. Dari jumlah itu, sebanyak 788 merupakan perpustakaan umum yang terdiri atas 752 perpustakaan desa/kelurahan, 35 perpustakaan kabupaten/kota, dan satu perpustakaan provinsi.

Selain perpustakaan umum, terdapat 70 perpustakaan perguruan tinggi yang telah terakreditasi di Jawa Tengah. Sementara, perpustakaan sekolah mendominasi dengan total 1.799 unit, mulai jenjang SD hingga SMA/SMK, termasuk perpustakaan SLB dan PAUD.

Jawa Tengah juga memiliki 24 perpustakaan khusus yang tersebar di berbagai institusi. Di antaranya, perpustakaan khusus, perpustakaan lembaga pemasyarakatan (lapas), hingga perpustakaan rumah ibadah.

Meski demikian, Nawal mengakui tantangan penguatan budaya literasi masih cukup besar. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Jawa Tengah tahun 2025 masih berada di angka 38,86, sementara Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat tercatat 57,11.

Oleh karena itu, pemerataan akses literasi hingga tingkat desa terus didorong sebagai prioritas. Perpustakaan desa harus menjadi garda terdepan dalam menghidupkan budaya membaca sekaligus meningkatkan kunjungan masyarakat ke perpustakaan.

Ia juga mendorong hadirnya berbagai inovasi daerah, seperti Kampung Literasi dan program Satu Minggu Satu Buku, agar gerakan literasi semakin dekat dengan masyarakat. “Perpustakaan desa ini menjadi inti bagaimana sampai ke akar rumput, mampu bergerak, mengembangkan gerakan gemar membaca, sekaligus meningkatkan angka kunjungan masyarakat ke perpustakaan,” ujar Nawal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....