Solar Rp30 Ribu per Liter, Nelayan Pantura Pekalongan Terancam Tak Bisa Melaut
- 10 Mei 2026 10:41 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Solar Rp30 Ribu per Liter, Nelayan Pantura Pekalongan Terancam Tak Bisa Melaut
- Harga Solar Non Subsidi Mencekik Nelayan
RRI.CO.ID, Pekalongan – Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis solar hingga menembus Rp30 ribu per liter mulai menghantam kehidupan nelayan kecil di pesisir Pantura Jawa Tengah. Ribuan nelayan tradisional di Kabupaten Pekalongan dan Batang kini terancam berhenti melaut karena biaya operasional melonjak tajam, sementara hasil tangkapan ikan tidak menentu.
Sejak harga solar nonsubsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex naik per 4 Mei 2026, keresahan mulai terasa di kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Wonokerto, Kabupaten Pekalongan. Aktivitas bongkar muat ikan dan pelelangan memang masih berjalan normal hingga Minggu 10 Mei 2026, namun para nelayan mengaku kondisi tersebut diperkirakan tidak akan bertahan lama jika stok solar subsidi terus langka.
Nelayan TPI Wonokerto, Tanamu, mengatakan saat ini nelayan masih bertahan karena solar subsidi di SPBN Wonokerto belum naik, yakni sekitar Rp230 ribu per jerigen berisi 35 liter. Namun persoalan utama justru terletak pada pasokan yang kerap kosong.
“Kalau solar subsidi habis, kami terpaksa beli solar nonsubsidi. Sekarang harganya bisa Rp30 ribu per liter. Hasil melaut sudah tidak cukup buat nutup biaya,” ujarnya.
Lonjakan harga tersebut dinilai sangat memberatkan nelayan kecil. Sebelumnya, solar nonsubsidi masih berada di kisaran Rp17 ribu per liter. Kini kenaikan hampir dua kali lipat membuat keuntungan nelayan tergerus habis untuk membeli bahan bakar.
Para nelayan mengaku pengeluaran operasional kapal meningkat drastis, sementara hasil tangkapan ikan tidak selalu stabil. Kondisi ini memicu kekhawatiran banyak kapal kecil akan memilih berhenti melaut karena biaya perjalanan lebih besar dibanding pendapatan yang diperoleh.
“Kami ini nelayan kecil, hidup dari hasil harian. Kalau solar mahal terus, lama-lama kapal cuma sandar di pelabuhan,” kata nelayan lainnya.
Dampak serupa juga dirasakan nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karangasem Utara, Kabupaten Batang. Nelayan setempat, Suryanto, menyebut kenaikan harga solar nonsubsidi membuat pendapatan mereka turun drastis akibat membengkaknya biaya operasional melaut.
Nelayan Pantura kini mendesak pemerintah segera turun tangan dengan mengkaji ulang kebijakan kenaikan harga BBM nonsubsidi. Sekaligus menetapkan harga khusus solar bagi nelayan tradisional.
"Harapannya distribusi solar subsidi di SPBN dipastikan tersedia setiap hari agar aktivitas melaut tidak lumpuh. Terutama untuk nelayan kecil di bawah 10 Gross tonage," terangnya.
Jika persoalan ini terus berlarut, kata dia, krisis BBM dikhawatirkan tidak hanya memukul ekonomi masyarakat pesisir. Namun juga mengganggu pasokan ikan di wilayah Pantura Jawa Tengah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....