Festival Film Australia-Indonesia di Semarang, Jembatan Budaya Dua Negara

  • 09 Mei 2026 08:07 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2026 kembali hadir membawa film-film kontemporer terbaik Australia dan Indonesia ke sejumlah kota di Tanah Air, termasuk Semarang. Festival yang telah berlangsung selama satu dekade itu menjadi ruang mempererat hubungan masyarakat kedua negara melalui seni dan budaya perfilman.

Pembukaan FSAI di Semarang digelar di DP XXI Mall Semarang pada Jumat, 8 Mei 2026. Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Glen Askew hadir langsung membuka festival yang diawali dengan pemutaran film drama-komedi berjudul kangaroo.

Film berlatar pedalaman Australia itu menyuguhkan kisah hangat tentang pentingnya komunitas dan nilai-nilai kebersamaan. Selain Kangaroo, festival juga menghadirkan berbagai genre film lain mulai dari animasi, dokumenter, hingga film horor.

Glen Askew mengatakan, festival film menjadi salah satu cara efektif untuk mempererat hubungan masyarakat Australia dan Indonesia. Menurutnya, melalui film, masyarakat Indonesia dapat mengenal lebih dekat budaya, seni, dan kehidupan masyarakat Australia.

“Film merupakan medium komunikasi budaya suatu negara. FSAI adalah bentuk komunikasi Australia dan Indonesia kepada penonton untuk memperkuat pemahaman budaya masing-masing negara,” ujarnya.

Ia menjelaskan, FSAI merupakan agenda tahunan yang sudah digelar selama sekitar 10 tahun dan mendapat sambutan positif dari masyarakat. Festival tahun ini juga berlangsung di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Makassar, Kupang, hingga Surabaya yang akan menjadi lokasi penyelenggaraan berikutnya.

Menurut Glen, antusiasme masyarakat Indonesia terhadap film menjadi modal penting untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara. Selama ini, hubungan pemerintah Australia dan Indonesia dinilai sudah erat, sehingga festival diarahkan untuk memperkuat kedekatan di tingkat publik.

Selain pemutaran film, FSAI 2026 juga menghadirkan program Masterclass Participatory Production and Cross-Cultural Storytelling di pada Sabtu, 9 Mei 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan pengajar senior berbagi pengalaman tentang produksi film dokumenter partisipatif dan storytelling lintas budaya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah turut menyambut positif penyelenggaraan festival tersebut. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Jawa Tengah, Sakina Roselasari mengatakan kerja sama antara Jawa Tengah dan Australia selama ini telah terjalin erat melalui program Sister Province dengan Queensland.

Menurut Sakina, kerja sama tersebut akan diperkuat melalui rencana kunjungan Gubernur Jawa Tengah ke Brisbane untuk penandatanganan perpanjangan nota kesepahaman. Kerja sama itu nantinya mencakup pengembangan kapasitas ASN, pendidikan, perdagangan, hingga kebudayaan.

Ia menambahkan, perkembangan industri kreatif di Indonesia kini semakin mendapat dukungan regulasi, termasuk sektor perfilman dan teknologi berbasis AI. Melalui Klasifikasi Buku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025, pelaku industri kreatif dan sineas kini telah memiliki ruang legal untuk mengembangkan usaha dan memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB).

“Sekarang sineas dan industri kreatif sudah terakomodasi menjadi pelaku usaha dan itu bisa kami fasilitasi secara gratis,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....