Tantangan Kepemimpinan Perempuan di Era Digitalisasi, Ini Kata Kapolres Semarang

  • 07 Mei 2026 09:25 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Kabupaten Semarang – Kapolres Semarang, AKBP Ratna Quraul Ainy menegaskan kepemimpinan perempuan di era modern menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan zaman. Terutama di tengah arus digitalisasi yang semakin pesat.

“Kepemimpinan perempuan merupakan tantangan di era modernisasi. Perempuan dituntut lebih adaptif dengan perkembangan yang ada, serta memiliki semangat tinggi untuk terus berkompetensi,” ungkapnya saat menjadi narasumber dialog inspiratif “Kepemimpinan Perempuan di Era Modern” di TVRI Jateng pada Rabu, 6 Mei 2026. .

Ia pun membagikan pengalaman perjalanan kariernya yang berangkat dari cita-cita sejak muda untuk menjadi anggota Polri. Baginya, menjadi polisi bukan sekadar profesi, melainkan panggilan untuk hadir di tengah masyarakat dengan berbagai dinamika dan tantangan.

“Menjadi seorang polisi adalah harapan saya sejak muda. Tugas ini memberikan kesempatan untuk berkontribusi langsung kepada masyarakat,” ujarnya.

Sebagai pimpinan, ia menekankan pentingnya kompetensi, perencanaan matang, serta dukungan dari berbagai pihak, mulai dari institusi, keluarga, hingga orang tua sebagai faktor penentu keberhasilan. Dalam menjalankan kepemimpinan, pendekatan humanis menjadi salah satu strategi utama.

“Polres Semarang bukan hanya tempat bekerja, tetapi menjadi rumah bersama. Team work yang solid menjadi kunci dalam menyelesaikan tugas secara optimal dan sesuai harapan masyarakat,” katanya.

Ratna juga menyoroti pentingnya integritas sebagai fondasi utama kepemimpinan. Menurutnya, pemimpin harus mampu menjadi contoh, sekaligus menerapkan sistem reward dan punishment secara adil untuk menjaga profesionalitas anggota.

Menjawab tantangan era digital, Polres Semarang juga melakukan berbagai inovasi pelayanan publik. Salah satunya melalui pengembangan Chatbot layanan kepolisian yang dapat diakses masyarakat selama 24 jam.

Selain itu, Polres Semarang aktif memberikan edukasi kepada pelajar terkait pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Program ini bertujuan membentuk generasi muda sebagai agen kamtibmas berbasis teknologi, bahkan telah melahirkan “Duta AI” sebagai pelopor pemanfaatan teknologi untuk menjaga kondusivitas.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi menjadi bagian penting dalam pelayanan modern. “Kami harus menyesuaikan diri agar pelayanan kepada masyarakat semakin efektif dan responsif,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Polres Semarang aktif melakukan pelatihan dengan menyiapkan 21 trainner kepada kaum pelajar. Harapannya, para pelajar bisa menjadi agen kamtibmas dalam dunia digital saat ini.

Dalam aspek personal, Kapolres juga menyinggung peran ganda perempuan sebagai ibu, istri, sekaligus pemimpin. Ia menilai kunci utama dalam menjalankan semua peran tersebut adalah komunikasi yang baik serta kemampuan menentukan prioritas.

Ia juga menekankan pentingnya kesetaraan dalam organisasi, dengan tetap memperhatikan perbedaan peran antara polisi wanita dan laki-laki sesuai dengan kapasitas dan tanggung jawab masing-masing. Terkait manajemen konflik, ia menegaskan, konflik harus dikelola dengan baik melalui pendekatan preventif dan preemtif, baik di internal organisasi maupun di tengah masyarakat.

“Konflik harus dicegah sejak dini. Dengan pembagian tugas yang jelas dan team work yang solid, potensi konflik bisa diminimalisir,” ujarnya.

Kapolres memberikan pesan kepada seluruh perempuan, khususnya anggota Polri, untuk terus mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi. “Perempuan harus terus mengasah kemampuan agar mampu bersaing dan sejajar dalam berbagai bidang,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....