Hari Puisi Nasional, Relevansi Puisi di Era Digital

  • 29 Apr 2026 14:40 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Peringatan Hari Puisi Nasional setiap 28 April kembali menghidupkan semangat berkarya yang diwariskan Chairil Anwar. Penyair yang dikenal dengan julukan “Si Binatang Jalang” itu dinilai masih relevan, bahkan di tengah derasnya arus digitalisasi.

Penulis Inpresta Natalia mengatakan, karakter utama yang perlu dimiliki penulis muda saat ini adalah keberanian dan kejujuran dalam menulis. Menurutnya, hal tersebut menjadi fondasi penting dalam menghasilkan karya yang kuat.

“Yang harus dipunyai anak muda sekarang adalah sifat berani, kritis, ekspresif, dan jujur, karena Chairil Anwar sangat berani dalam mengungkapkan ide menjadi karya,” katanya, Selasa, 28 April 2026.

Ia menambahkan, puisi masih memiliki kekuatan sebagai medium perubahan. Hanya saja, bentuk “pemberontakan” kini mengalami pergeseran dari isu politik ke persoalan yang lebih luas.

“Tentu saja puisi masih punya kekuatan dan relevan. Sekarang bukan hanya isu politik, tapi juga opini publik dan kesehatan mental bisa jadi karya dan sarana pemberontakan,” katanya.

Perkembangan teknologi juga membawa perubahan besar dalam cara puisi disajikan. Kini, puisi tidak hanya dibaca, tetapi juga dapat didengar dan dilihat melalui berbagai platform digital.

Menurut Inpresta, penguasaan teknologi menjadi kebutuhan bagi penulis masa kini. “Hukumnya wajib, karena sastra juga harus relevan. Kita butuh platform untuk menyebarkan karya,” ungkapnya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar media sosial tidak dijadikan sebagai penentu arah berkarya. “Media sosial itu megaphone, bukan kompas. Jangan sampai kita hanya mengikuti tren,” ujarnya.

Momentum Hari Puisi Nasional diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk terus menulis dengan jujur dan berani. Hal ini juga menjadi bentuk upaya meneruskan semangat Chairil Anwar di era digital. (Aritsu)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....