Minyakita Langka, Pedagang Ngeluh Belum Dapat Stok Sebulan Terakhir
- 28 Apr 2026 11:08 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Kelangkaan minyak goreng subsidi merek Minyakita mulai dikeluhkan para pedagang sembako di Pasar Jrakah, Semarang. Selama lebih dari satu bulan terakhir, mereka mengaku tidak lagi mendapatkan pasokan stok untuk dijual kepada pembeli.
Salah seorang pedagang sembako di lantai 2 Pasar Jrakah, Tri, mengatakan stok Minyakita terakhir kali datang sesaat setelah Lebaran pada Maret lalu. Setelah itu, hingga kini pasokan belum kembali masuk karena pihak sales menyebut barang masih belum tersedia.
Menurut Tri, pasokan terakhir yang diterima hanya berasal dari Bulog dengan jumlah terbatas, yakni tiga dus kemasan 1 liter dan kemasan bantalan. Padahal biasanya, ia lebih sering memperoleh stok dalam kemasan isi ulang, namun kali ini jenis tersebut juga tidak tersedia.
“Sudah satu bulanan belum dapat kulakan Minyak Kita. Habis Lebaran datang sekali, sampai sekarang belum datang lagi stoknya,” ujar Tri kepada RRI, Selasa, 28 April 2026. Akibat kondisi tersebut, ia terpaksa menghentikan penjualan Minyak Kita di lapaknya.
Di tengah kelangkaan itu, harga minyak goreng merek lain juga mengalami kenaikan. Untuk kemasan kurang dari satu liter, harga yang sebelumnya sekitar Rp16 ribu kini naik menjadi Rp18 ribu hingga Rp19 ribu.
Keluhan serupa juga disampaikan pedagang kelontong lainnya, Musofingah. Ia mengungkapkan, stok Minyakita di toko grosir pun saat ini kosong dan sangat jarang ditemukan.
Kalaupun tersedia, kata Musofingah, harga jual dari grosir sudah jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang tertera pada label. Pada kemasan tercantum harga Rp15.700, namun dari grosir barang sudah dibanderol sekitar harga Rp20.000/liternya.
"Minyak kita sekarang jarang di toko grosir. Kadang ada, harganya sudah mahal," ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pedagang lebih memilih menjual merek lain yang kualitasnya dinilai lebih baik dengan selisih harga yang tidak terlalu jauh. Selain sulit dicari, Minyakita juga dinilai sudah tidak lagi kompetitif dari sisi harga.
“Terakhir saya jual masih Rp20.000 sebelum puasa. Sekarang sudah tidak pernah dapat stok lagi,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat menggelontorkan stok ke pasaran. Sebab, ia khawatir kelangkaan yang berkepanjangan akan semakin membebani pedagang kecil dan konsumen di pasar tradisional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....