Dugaan Keracunan MBG di Demak, Wagub Jateng Soroti Distribusi

  • 21 Apr 2026 16:13 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Demak menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen menekankan pentingnya ketepatan waktu distribusi makanan guna mencegah kejadian serupa.

Ia mengaku prihatin atas insiden yang menimpa ratusan penerima manfaat di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung. Menurutnya, kasus keracunan kerap dipicu oleh keterlambatan distribusi hingga melewati masa konsumsi makanan.

Taj Yasin menegaskan makanan MBG harus diantarkan tepat waktu dan segera dikonsumsi. Ia mengingatkan bahwa penyimpanan makanan terlalu lama berpotensi menurunkan kualitas dan membahayakan kesehatan.

"Biasanya yang keracunan itu karena pengaturan jadwalnya kurang tepat. Makanan ini ada masa konsumsinya, jadi harus diantarkan tepat waktu dan langsung dikonsumsi,” ujar Taj Yasin usai mengahadiri acara di Kantor TVRI Jawa Tengah, Batursari, Mranggen, Demak, Selasa, 21 April 2026.

Selain itu, pihak sekolah dan pesantren diminta berperan aktif mengawasi konsumsi makanan oleh siswa dan santri. Mereka diharapkan memastikan makanan tidak disimpan untuk dikonsumsi di waktu yang tidak tepat.

Sebagai Ketua Pokja Percepatan Pelaksanaan Program MBG Jateng, Taj Yasin juga menegaskan adanya sanksi bagi penyedia layanan yang lalai. Sanksi tersebut diberikan secara berjenjang mulai dari pembinaan hingga pencabutan izin operasional.

"Sudah ada kasus penutupan dapur di Jawa Tengah. Ini menjadi peringatan keras. Dari pemerintah pusat juga sudah memberikan warning (peringatan), ada tahapan sanksi bahkan sampai pencabutan izin,” ungkapnya.

Untuk diketahui, kasus ini bermula dari dugaan keracunan yang dialami ratusan santri setelah mengonsumsi makanan MBG pada Sabtu 18 April 2026. Gejala seperti mual, muntah, pusing, dan sakit perut mulai dirasakan pada keesokan harinya.

Tidak hanya santri, kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita juga terdampak. Total korban dalam kejadian ini diperkirakan mencapai 187 orang.

Hingga Senin, puluhan korban menjalani perawatan inap dan rawat jalan dengan pengawasan medis. Penanganan intensif terus dilakukan untuk memastikan kondisi korban membaik.

Sebagai tindak lanjut, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di lokasi dihentikan sementara. Lokasi tersebut juga telah dipasang garis polisi untuk kepentingan penyelidikan.

Dinas kesehatan setempat tengah melakukan uji laboratorium guna memastikan penyebab pasti kejadian. Evaluasi menyeluruh juga dilakukan terhadap aspek produksi, higiene, dan kapasitas sumber daya manusia.

Pemerintah berharap peristiwa ini menjadi momentum perbaikan sistem distribusi MBG. Langkah pembenahan diharapkan mampu mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....