Meriahkan Hari Kartini, Ratusan Pelajar SLB Negeri Semarang Unjuk Kreativitas

  • 21 Apr 2026 09:52 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Peringatan Hari Kartini di SLB Negeri Semarang berlangsung meriah dan penuh makna, di Gedung Semeru SLB N Semarang, Selasa 21 April 2026. Sebanyak sekitar 500 siswa dari jenjang TK hingga SMA turut ambil bagian dalam berbagai kegiatan kreatif yang dirancang untuk menggali potensi dan keterampilan anak berkebutuhan khusus.

Kegiatan tahun ini dibagi dalam beberapa kelompok sesuai jenjang dan kebutuhan siswa. Perwakilan sekolah, Siti Anisa, menjelaskan, untuk tingkat SMP dan SMA, siswa perempuan mengikuti beauty class dengan belajar make up dari dasar hingga selesai, sementara siswa laki-laki mengikuti kegiatan seni lipat kain.

Di sisi lain, siswa tunanetra dari tingkat SD hingga SMA difokuskan pada keterampilan membuat clay art yang kemudian dibentuk menjadi bros atau gantungan kunci. Sementara, siswa SDLB dari berbagai kategori seperti tuna rungu, tuna grahita, dan tuna daksa diajak membuat kerajinan sederhana dari kawat bulu.

“Ini bagian dari semangat emansipasi. Kami ingin anak-anak bisa berkreasi melalui keterampilan tangan sekaligus melatih motorik dan sensorik mereka,” ujar Siti Anisa.

Dengan antusias, para siswa bebas mencoba berbagai aktivitas, sekaligus menemukan minat masing-masing. Salah satunya Sasa, siswi kelas 10 penyandang tuna grahita, yang baru pertama kali mencoba make up dalam kegiatan tersebut.

Meski mengikuti dengan antusias, Sasa mengaku lebih menyukai kegiatan membatik yang sudah sering ia lakukan. “Ini baru pertama kali ikut make up, tadi diajari alis, tapi lupa. Lebih suka batik,” ujarnya dengan polos.

Menurut Sasa, make up membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga ia kurang tertarik. Berbeda dengan membatik yang terasa lebih menyenangkan baginya.

Pendamping kegiatan, Antya Rana, mahasiswa psikologi dari Universitas Diponegoro, menilai kegiatan ini menjadi ruang belajar yang berharga. Tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi para pendamping.

“Anak-anak di sini punya potensi besar. Awalnya memang ada kesulitan komunikasi, terutama dengan siswa tuna rungu, tapi seiring waktu, kami belajar bersama dan mulai bisa berinteraksi,” ujarnya.

Antya yang telah menjalani program magang selama satu setengah bulan itu mendampingi sekitar 10 siswa dalam satu kelas. Ia merasakan langsung bagaimana proses pendampingan mampu membangun kedekatan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri anak-anak.

Setiap tahun, peringatan Hari Kartini di sekolah ini selalu menghadirkan tema berbeda. Tahun sebelumnya, siswa mengikuti kegiatan menata kain dan membuat aneka minuman, sedangkan tahun ini, fokus diarahkan pada keterampilan kreatif yang lebih beragam.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, semangat Kartini tidak hanya dimaknai sebagai simbol emansipasi perempuan. Akan tetapi, juga sebagai dorongan bagi seluruh anak, termasuk penyandang disabilitas, untuk terus berkembang, berani mencoba, dan percaya pada kemampuan diri mereka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....