Tokoh Asal Purworejo Sudarto Adinagoro Rilis Buku Keduanya

  • 18 Apr 2026 13:39 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Purworejo - Sudarto Adinagoro, seorang tokoh asal Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, kembali meluncurkan karya keduanya berjudul Seni Berpikir, Bertindak, dan Memimpin di Dunia yang Berubah. Buku tersebut hadir sebagai kelanjutan dari kesuksesan buku perdananya, Macan Putih Melangkah di Antara Luka dan Harapan, yang sebelumnya mendapat sambutan baik dari masyarakat.

Sudarto mengungkapkan, menulis telah menjadi bagian dari gaya hidupnya. Ia menilai, buku merupakan medium untuk menyalurkan gagasan sekaligus berbagi pengalaman hidup yang sarat nilai.

“Berkarya melalui buku memiliki kepuasan tersendiri yang tidak bisa dinilai dengan materi. Buku pertama Macan Putih mendapat respons yang baik, dan itu menjadi motivasi saya untuk terus menulis,” katanya saat dikonfirmasi pada Sabtu, 18 April 2026.

Sudarto menjelaskan, buku kedua ini lahir dari refleksi pribadi di usia 51 tahun fase kehidupan yang tidak lagi hanya berorientasi pada pencapaian. Namun pada kontribusi nyata bagi sesama.

“Di usia ini, hidup bukan lagi soal apa yang kita capai, tetapi apa yang bisa kita berikan. Buku ini adalah bentuk rasa syukur sekaligus upaya berbagi pengalaman, pemikiran, dan nilai,” ujarnya.

Sudarto mengungkapkan, bahwa filosofi buku ini berangkat dari pemaknaan nama “Sudarto” sebagai pribadi yang teguh dan bertanggung jawab dalam pengabdian. Dari pemaknaan ini, ia merumuskan konsep kepemimpinan SDR (Synergy, Dedication, Resilience). Synergy dimaknai sebagai kemampuan merajut perbedaan menjadi kekuatan bersama.

"Dedication sebagai komitmen pengabdian untuk memberikan yang terbaik, serta Resilience sebagai keteguhan dalam menghadapi tekanan dan perubahan," ungkapnya. Buku setebal 132 halaman tersebut diterbitkan oleh Widina Media Utama.

Ia berharap, bukunya dapat menjadi referensi bagi para pemimpin, calon pemimpin, serta generasi muda dalam membangun literasi kepemimpinan yang lebih komprehensif. “Saya tidak bermaksud menggurui. Buku ini adalah bentuk rasa syukur dan upaya berbagi, semoga bisa menjadi bahan refleksi bagi siapa pun yang membacanya,” pungkasnya.(Ags)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....