Usia ke-479, Kota Semarang Tegaskan Transformasi Berkelanjutan
- 13 Apr 2026 21:29 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Dua windu lagi menuju setengah milenium, pada 2 Mei 2026 ini Kota Semarang yang akan mewujudkan transformasi berkelanjutan, genap berusia 479 tahun. Bukan sekadar angka, melainkan akumulasi sejarah panjang yang mencatat lika-liku dari kota pelabuhan kolonial hingga menjelma menjadi ibukota Jawa Tengah yang dinamis.
Namun, perjalanan usia yang nyaris lima abad ini tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan. Lebih dari itu, momentum ini menjadi titik tolak deklarasi kolektif: Semarang hendak bertransformasi menjadi kota yang bersih, sehat, cerdas, makmur, dan tangguh.
Pemerintah Kota Semarang di bawah kepemimpinan Wali Kota Agustina Wilujeng dan Wakil wali kota, Iswar Aminuddin mengemas peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-479 dengan pendekatan yang tidak biasa. Alih-alih menggelar pesta seremonial berbiaya besar, Pemkot Semarang memilih menghadirkan 17 "kado hebat" yang menyasar langsung kebutuhan mendasar warga.
Keputusan ini mencerminkan pergeseran paradigma pembangunan perkotaan: dari kota yang dibangun untuk dilihat, menjadi kota yang dirasakan oleh warganya. Tema Semarang Bergerak, Semarang Semakin Hebat bukan sekadar slogan.
"Ini adalah gerak kolektif yang mengintegrasikan akar tradisi dengan transformasi modern. Energi ini kita arahkan untuk mewujudkan visi besar: Semarang sebagai kota yang bersih, sehat, cerdas, makmur, dan tangguh di usianya yang ke-479," ujar Agustina, Senin 13 April 2026.
Menurut dia, visi lima kata itu—bersih, sehat, cerdas, makmur, tangguh—bukan sekadar rangkaian adjektiva. Menurut perencana pembangunan Kota Semarang, kelimanya merupakan kerangka kerja yang saling mengunci.
Ia menjelaskan, bersih berarti tata kelola lingkungan dan ruang publik yang bebas dari akumulasi sampah serta polusi. Sehat mencakup akses layanan kesehatan preventif dan kuratif yang merata.
Pihaknya menuturkan, cerdas tak hanya soal literasi digital, tetapi juga ekosistem pendidikan yang inklusif dan berbasis data. Makmur diukur dari pemerataan ekonomi hingga ke tingkat rumah tangga.
Adapun tangguh adalah kapasitas kota menghadapi guncangan—baik bencana alam, krisis iklim, maupun tekanan sosial. Belasan kado yang disiapkan Pemkot Semarang, jika dibedah, adalah manifestasi dari kelima pilar tersebut.
Agustina menuturkan, tidak ada yang diberikan secara serampangan. Setiap program memiliki sasaran strategis yang terukur.
Di sektor fasilitas publik, kata dia, masyarakat dapat mengakses secara gratis sejumlah sarana olah raga seperti Gedung Tri Lomba Juang, Lapangan Tambora, GOR Manunggal Jati, hingga Padepokan Pencak Silat Gunung Talang pada momen tertentu. Diskon 50 persen juga diberikan untuk penggunaan Lapangan Sepak Bola Sidodadi tepat pada 2 Mei 2026.
Wali kota mengemukakan, kebijakan ini menjawab salah satu keluhan warga selama ini: mahalnya biaya sewa fasilitas olahraga yang kerap membuat ruang publik tidak terjangkau. Yang lebih monumental adalah kebijakan gratis BRT Trans Semarang di seluruh koridor pada 1–5 Mei 2026.
Menurutnya, langkah ini bukan hanya soal penghematan ongkos, melainkan uji coba untuk melihat seberapa besar potensi peralihan moda jika transportasi publik benar-benar dihadirkan tanpa beban biaya. “Ini menjadi data penting bagi kami untuk merancang subsidi lintas angkutan di masa depan,” ungkap Agustina.
Selain itu, tarif parkir didiskon menjadi hanya Rp479 bagi pengguna QRIS. Nilai simbolis ini mengingatkan warga pada usia kota sekaligus mendorong transisi menuju pembayaran nontunai yang lebih efisien.
Pada sektor layanan dasar, ujarnya, Pemkot memberikan diskon sambungan air bersih Rp550 ribu per kepala keluarga dengan syarat minimal 10 KK dalam satu kelompok. Program ini menyasar permukiman padat yang selama ini terkendala biaya pemasangan baru. Lebih jauh, layanan air tangki gratis disediakan sepanjang 2026 untuk daerah rawan bencana, kekeringan, dan kebutuhan kegiatan keagamaan.
Agustina menegaskan, diskon 10 persen untuk layanan sedot tinja juga berlaku dengan kuota terbatas—sebuah upaya mengatasi persoalan sanitasi yang kerap luput dari perhatian. Agustina menekankan bahwa kado-kado ini lahir dari data. “Kami tidak asal bagi. Setiap program didasarkan pada keluhan yang masuk lewat saluran partisipasi warga, media sosial, hingga musrenbang. Inilah bentuk kehadiran negara yang responsif,” ucapnya.
Di sektor pariwisata, ia menjelaskna, seluruh objek wisata di Kota Semarang digratiskan pada 2 Mei 2026. Kebijakan ini diharapkan mendongkrak kunjungan sekaligus menghidupkan kembali ekonomi kreatif yang masih dalam masa pemulihan pascapandemi.
Namun, yang lebih strategis adalah program LAMP1ON (Layanan Mudah dan Cepat Perizinan Online) yang dihadirkan pada 5 Mei 2026. Program ini memberikan kemudahan dan diskon untuk layanan laboratorium serta Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). “Perizinan yang rumit selama ini menjadi salah satu hambatan utama UMKM. Kami potong simpulnya,” tegas Agustina.
Dalam ranah kesehatan, Pemkot Semarang tidak sekadar menggelar bakti sosial massal. Bantuan difokuskan pada ibu hamil risiko tinggi dan bayi berat lahir rendah (BBLR) di tiga kecamatan prioritas pada 5–7 Mei 2026. Data Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa angka kematian ibu dan bayi di wilayah tersebut masih di atas rata-rata kota. Dengan intervensi langsung, Pemkot berharap dapat menekan angka kematian sekaligus membangun sistem rujukan yang lebih tanggap.
Selain itu, skrining kesehatan gratis disediakan di 40 puskesmas. Tidak hanya untuk lansia, tetapi juga kelompok usia produktif yang kerap mengabaikan pemeriksaan rutin.
Program Jempol Pak Kuat (Jemput Bola Perizinan dan Penguatan Ekonomi Kreatif) menjadi salah satu kado yang paling dinanti pelaku UMKM. Layanan ini berupa jemput bola perizinan PSAT (Pemberdayaan Sosial dan Terpadu), fasilitas kemasan gratis, serta uji bahan berbahaya di sejumlah lokasi hingga akhir Mei 2026. Dalam praktiknya, petugas akan datang langsung ke sentra-sentra industri kecil untuk memproses perizinan dan memberikan sertifikasi produk.
Di sisi lingkungan, warga diajak menukar botol bekas dengan bibit tanaman atau produk ramah lingkungan. Program ini mengajak partisipasi aktif warga dalam mengurangi sampah plastik sekaligus menghijaukan kota. Job Fair pada 6–7 Mei 2026 juga disiapkan untuk menjembatani pencari kerja dengan perusahaan-perusahaan yang membuka lowongan.
Tak ketinggalan, layanan administrasi kependudukan seperti perekaman e-KTP bagi pelajar, Kartu Identitas Anak (KIA), dan e-KTP khusus bagi penyandang disabilitas menjadi perhatian. Selama ini, kelompok disabilitas kerap menghadapi hambatan akses karena loket pelayanan yang tidak ramah. Pemkot berkomitmen untuk menjemput bola dengan mendatangi sekolah-sekolah dan komunitas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....