Produksi Padi Jateng Capai 4 Juta Ton, Distribusi Diperhatikan Jamin Harga Stabil

  • 06 Apr 2026 19:27 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Produksi padi di Jawa Tengah hingga awal April 2026 telah menembus angka 4,16 juta ton gabah kering giling (GKG). Pemerintah menegaskan, distribusi hasil itu menjadi kunci agar surplus produksi mampu menjaga stabilitas harga di pasaran.

Kepala Distanak Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, menyebut capaian produksi padi itu mencapai 39,48 persen dari target 10,55 juta ton GKG. Capaian tersebut menunjukkan tren positif meski masih dalam fase awal musim tanam.

Meneurutnya, meski produksi itu hingga kini masih berjalan, neraca pangan Jawa Tengah sudah menunjukkan kondisi surplus. Per Maret 2026, surplus beras tercatat mencapai 702.409 ton, sementara komoditas daging dan telur juga dalam kondisi aman.

“Yang perlu menjadi perhatian berikutnya adalah distribusi agar surplus ini bisa merata, dan menjaga stabilitas harga,” ujar Frans, sapaan Defransisco.

Menurutnya, pihaknya mengaku terus menggenjot kinerja menuju swasembada pangan. Berbagai strategi berbasis data dan intervensi lapangan dilakukan untuk memastikan target 2026 tercapai.

Adapun, selain padi komoditas jagung juga mencatat progres dengan realisasi 984.959 ton atau 26,62 persen dari target. Sementara kedelai masih dalam tahap awal produksi dengan capaian 762 ton atau 1,44 persen dari target.

Pada sektor hortikultura, produksi bawang merah mencapai 144.705 ton atau 23,45 persen dari target. Adapun cabai terealisasi 80.892 ton atau 17,72 persen dari target yang ditetapkan.

Kinerja sektor peternakan juga menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Produksi telur mencapai 238.154 ton, daging 311.042 ton, dan susu 17.928 ton dengan capaian rata-rata di kisaran 23 hingga 33 persen dari target.

Untuk mendukung peningkatan produksi, pemerintah mengalokasikan berbagai program strategis sepanjang 2026, diantaranya bantuan benih dan sarana produksi disalurkan untuk ribuan hektare lahan padi, jagung, kedelai, cabai, dan bawang merah.

Intervensi juga menyasar komoditas perkebunan seperti tebu, kopi, dan kelapa melalui perluasan areal tanam, hingga pembangunan rehabilitasi ratusan jaringan irigasi.

Modernisasi pertanian turut dipacu melalui distribusi alat dan mesin pertanian. Bantuan mencakup rice transplanter, traktor, pompa air, hingga combine harvester untuk meningkatkan efisiensi produksi.

Di sisi perlindungan petani, pemerintah menjalankan program asuransi usaha tani dan subsidi pembiayaan. Program ini ditujukan untuk mengurangi risiko kerugian serta memperkuat permodalan petani.

Pengendalian organisme pengganggu tanaman dan program kesehatan hewan juga terus digencarkan. Langkah ini dilakukan melalui vaksinasi dan pengobatan ribuan ternak guna menjaga produktivitas.

Menurut Frans, strategi yang dijalankan tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga keberlanjutan sistem pertanian. Upaya tersebut mencakup penguatan luas baku sawah, peningkatan indeks tanam, dan pemanfaatan teknologi.

Pemerintah juga mengembangkan kemitraan “petarung sejati” untuk menjaga pasokan dan distribusi komoditas strategis. Salah satunya melalui komitmen penyediaan 450 ton cabai rawit merah guna mengantisipasi masa paceklik.

Di tengah tantangan alih fungsi lahan dan potensi penurunan produksi, koordinasi lintas sektor terus diperkuat. Sinergi dilakukan bersama pemerintah pusat, daerah, Bank Indonesia, hingga aparat keamanan.

“Kolaborasi menjadi kunci. Dengan dukungan semua pihak, kami optimistis Jawa Tengah mampu mencapai swasembada pangan, sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan kesejahteraan petani,” ujar Frans.

Upaya ini juga sejalan dengan komitmen Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Keduanya terus mendorong percepatan swasembada pangan sebagai bagian dari program prioritas nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....