Pemkot Gelar Mahakarya dan Sesaji Rewanda untuk Memuliakan Tradisi di Goa Kreo
- 27 Mar 2026 18:34 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang akan menyuguhkan perpaduan apik antara seni pertunjukan modern dan ritual adat sakral. Event yang berlangsung di kawasan Gunungpati, akhir pekan ini digelar melalui rangkaian Mahakarya Goa Kreo dan Sesaji Rewanda.
Dimulai dengan pagelaran Mahakarya Legenda pada Jumat 27 Maret 2026 malam di Plaza Kandri, rangkaian ini mencapai puncaknya melalui ritual tahunan Sesaji Rewanda di Obyek Wisata Goa Kreo pada Sabtu 28 Maret 2026 pagi. Ini sebagai bentuk pelestarian warisan sejarah Sunan Kalijaga.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menegaskan, sinergitas kedua acara ini merupakan upaya strategis pemerintah dalam menjaga ekosistem budaya agar tetap relevan di tengah modernitas. Ia tidak ingin tradisi hanya menjadi cerita masa lalu yang statis.
"Melalui Mahakarya Goa Kreo, kami memberi ruang bagi kreativitas generasi muda untuk merepresentasikan legenda secara artistik. Sementara melalui Sesaji Rewanda, kita membumikan kembali nilai-nilai spiritual dan rasa syukur kepada Sang Pencipta melalui penghormatan terhadap alam," ujarnya.
Menurut dia, momentum sakral pada Sabtu pagi ditandai dengan pemberangkatan rombongan kirab Sesaji Rewanda yang bergerak dari Masjid Al-Mabrur menuju pelataran Goa Kreo. Dalam prosesi tersebut, replika kayu jati yang menjadi representasi sejarah perjuangan Sunan Kalijaga dipikul oleh delapan orang, diiringi barisan sembilan Santri Kanjengan serta sosok ikonik Kera Bangbintulu.
"Replika kayu jati ini menjadi pengingat bahwa pembangunan peradaban, seperti halnya Masjid Agung Demak dulu, membutuhkan gotong royong dan harmoni dengan alam. Kera-kera di Goa Kreo adalah bagian dari sejarah dakwah Sunan Kalijaga yang harus kita jaga habitatnya," lanjutnya.
Tahun ini, kata dia, sebanyak enam jenis gunungan dikirab sebagai pusat perhatian, mulai dari Gunungan Sesaji, Buah, Nasi Kuning, Hasil Bumi, Kupat Lepet, hingga Nasi Golong. Setelah didoakan, gunungan tersebut dipersembahkan secara simbolis kepada kawanan kera sebagai bentuk sedekah alam, sebelum akhirnya dinikmati bersama masyarakat.
Ia menuturkan, gunungan ini sebagai wujud "ngalap berkah" atau mencari keberkahan dari hasil bumi yang melimpah. Wali Kota juga menyoroti dampak ekonomi dari sinkronisasi dua acara besar ini.
Dengan adanya pagelaran di malam hari dan ritual di pagi hari, diharapkan wisatawan memiliki alasan lebih kuat untuk tinggal lebih lama dan menikmati atmosfer Desa Wisata Kandri. "Kami mengundang seluruh masyarakat untuk hadir dan menyaksikan langsung sakralnya ritual ini. Selain edukasi sejarah, pengunjung juga bisa menikmati suasana alam Goa Kreo yang asri," jelasnyanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....