Dari Mimbar Idulfitri, Prof Rozihan Sampaikan Pesan Toleransi dan Kemanusian
- 20 Mar 2026 09:10 WIB
- Semarang
RRI.CO.DI,Semarang – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Prof. Rozihan, menilai perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri merupakan hal yang wajar dan bagian dari keindahan dalam kehidupan beragama. Hal tersebut disampaikannya usai menjadi imam dan khatib Salat Idulfitri di halaman RS Roemani Semarang, Jumat, 20 Maret 2026.
Menurutnya, perbedaan pelaksanaan Idulfitri, baik pada Jumat maupun Sabtu, sama-sama memiliki dasar yang benar sesuai metode yang digunakan masing-masing pihak. “Perbedaan itu biasa dan indah. Ibarat angka 10, bisa didapat dari 5+5, 7+3, atau 6+4. Semua benar, hanya pendekatannya yang berbeda,” ujar Prof. Rozihan.
Ia menjelaskan, perbedaan tersebut muncul karena metode penentuan awal Syawal yang berbeda. “Kalau menggunakan kalender Hijriah global tunggal, ketika di satu negara sudah terlihat hilal, maka seluruh dunia mengikuti. Sementara yang lain masih menggunakan pendekatan lokal,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. Rozihan menyebut perbedaan kalender Hijriah ini sebagai bagian dari “utang peradaban” yang hingga kini belum sepenuhnya terselesaikan di dunia Islam. Meski demikian, ia menekankan bahwa perbedaan tersebut tidak perlu diperdebatkan, melainkan disikapi dengan saling menghormati.
Dalam kesempatan itu, Prof. Rozihan juga menegaskan makna Idulfitri sebagai tolok ukur keberhasilan menjalankan ibadah Ramadan. Ia mengibaratkan umat yang berhasil kembali suci seperti bayi yang baru lahir.
Namun, kesucian tersebut menurutnya harus tercermin dalam sikap sosial, terutama kepedulian terhadap sesama tanpa memandang perbedaan agama, suku, maupun golongan. “Solidaritas itu tidak hanya untuk sesama Muslim, tetapi solidaritas kemanusiaan, kita harus peduli kepada siapa saja,” ucapnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya membangun bangsa melalui semangat memberi, bukan mengambil. Menurutnya, pembangunan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat melalui zakat, infak, dan sedekah.
Ia pun mengajak masyarakat menjadikan momentum Idulfitri sebagai titik awal memperkuat kepedulian sosial dan semangat berbagi dalam kehidupan sehari-hari. “Perintah dalam agama itu memberi, bukan mengambil, dengan memberi, Allah akan memudahkan segala urusan kita,” ungkapnya.
Sementara itu, Nur Aini, warga Muhammadiyah yang ditemui usai salat, mengatakan pelaksanaan ibadah berlangsung khidmat. Meski demikian, ia mengakui terdapat sejumlah penyesuaian teknis akibat pembangunan di lokasi.
Ia mengaku telah beberapa kali mengikuti Salat Id di tempat tersebut karena dekat dengan tempat tinggalnya. Menurutnya, pengaturan area dilakukan dengan baik, termasuk menyediakan akses bagi ambulans dan kebutuhan darurat rumah sakit.
Lebih lanjut, Nur Aini juga mengapresiasi isi khutbah Idulfitri yang disampaikan Prof. Rozihan, yang menurutnya mengajak umat Islam untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama. “Tadi disampaikan bagaimana kita harus menjadi makhluk sosial yang baik, saling peduli dan berguna untuk orang lain,” ungkapnya.
Terkait perbedaan waktu pelaksanaan Idulfitri antara Muhammadiyah dan pemerintah, Nur Aini menilai hal itu bukan menjadi persoalan. Ia menekankan pentingnya sikap saling menghormati di tengah perbedaan yang ada di masyarakat.
“Bagi kami itu bukan masalah, kami sudah punya pedoman sendiri dan dijalankan oleh jemaah. Yang berbeda pun tentu punya dasar masing-masing,” jelasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....