Waspadai Dampak Perang Timur Tengah, BI Jateng Ajak Belanja Bijak

  • 11 Mar 2026 15:25 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang — Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah mengajak masyarakat menerapkan pola belanja bijak sebagai langkah antisipasi terhadap potensi dampak konflik di Timur Tengah. Imbauan tersebut disampaikan untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah Noor Nugroho mengatakan, belanja bijak dapat dilakukan dengan memprioritaskan kebutuhan utama dibandingkan kebutuhan lain yang tidak mendesak. Dengan begitu, pengeluaran rumah tangga dapat lebih terkontrol.

"Sementara kebutuhan yang lain mungkin kita bisa tunda atau prioritaskan yang berikutnya. Belanja bijak itu juga termasuk kita harus membandingkan harga-harga, jadi kita upayakan supaya dapat harga yang termurah dengan kualitas yang sama," ujarnya usai Gerakan Pangan Murah dan Basar Ramadan di Balai Kota Semarang, Rabu 11 Maret 2026.

Ia juga menyampaikan, dinamika perang di Timur Tengah perlu diwaspadai meskipun dampaknya hingga kini belum dirasakan secara langsung. Situasi tersebut dinilai tetap menjadi faktor risiko bagi perekonomian.

Menurutnya, dampak konflik itu sangat bergantung pada lamanya perang berlangsung. Jika konflik terjadi dalam waktu panjang, efeknya dapat memengaruhi berbagai sektor ekonomi, termasuk di Indonesia.

"Mudah-mudahan perang yang enggak berlangsung lama kita bisa aman. Nah, tapi selanjutnya kita perlu strategi juga gimana menyikapi supaya efek itu tidak berdampak signifikan," ujarnya.

Nunu sapaan akrabnya juga menilai, salah satu sektor yang berpotensi terdampak adalah pasokan minyak dunia. Komoditas energi tersebut menjadi bahan dasar yang berpengaruh besar terhadap berbagai aktivitas ekonomi.

Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya distribusi barang dan jasa. Kondisi ini pada akhirnya dapat memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan di masyarakat.

Menurutnya, BI hingga saat ini masih melakukan kajian terkait potensi dampak konflik terhadap perekonomian. Langkah tersebut dilakukan untuk melihat sejauh mana pengaruhnya terhadap berbagai sektor.

Ia mengatakan, BI tetap memantau perkembangan global dan menyiapkan langkah antisipatif jika konflik berlangsung lebih lama. Hasil asesmen tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam merumuskan rekomendasi kebijakan.

"Kita perlu lihat impact-nya itu ke mana-mana saja. Baru nanti dari situ kita bisa rekomendasikan kira-kira action apa yang kita butuhkan untuk antisipasi kalau misalnya perangnya berlanjut dalam waktu yang relatif lama," tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....