Dua Santri di Ponpes Semarang Jualan Sarung Live Tik Tok dan Siarkan Dakwah

  • 08 Mar 2026 21:40 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Laili Zayyinatul Huda dan satu temannya disebuah asram berlatarkan lampu ring light menerangi wajah keduanya bergantian mempromosikan sarung dan busana muslim lainnya melalui siaran live TikTok. Keduanya merupakan santri Ponpes Roudlotul Quran Kota Semarang.

Laili mengaku baru sekitar dua minggu belajar menjadi talent dan berjualan di platform digital. Pengalaman itu menjadi hal baru di sela aktivitas utamanya menghafal Al-Qur'an di Ponpes tersebut.

"Sebelumnya saya belajar menjadi talent itu di Masjid Affiliate Bandung selama tiga hari. Proses pembelajarannya yang kita dapat disana pertama personal branding, membangun akun dan setelah bisa daftar affiliate kita langsung terjun live," katanya, Minggu 8 Maret 2026.

Akun @santritengahkota menjadi etalase digital mereka. Di sana, para santri menawarkan aneka produk seperti sarung dan pakaian muslim. Sebagian produk yang dijual juga merupakan sampel dari Masjid Affiliate Al-Kahfi Bunut, Kabupaten Bandung.

Kemampuan berbicara di depan kamera dilatih secara mandiri. Laili banyak belajar dengan menyimak siaran live dari kreator lainnya, lalu mencoba menirunya dengan gayanya sendiri.

Selama Ramadan, Laili bersama lima santri lainnya bergantian melangsungkan siaran live TikTok dua kali sehari. Sesi pertama dimulai pukul 11.00-12.00 WIB, sedangkan sesi kedua berlangsung pada malam hari usai salat tarawih pukul 20.30-23.30 WIB.

"Penjualan produk kami masih naik turun. Tapi kemarin sempat paling banyak dalam sehari itu terjual 30 produk. (Live Tiktok) ini sangat bermanfaat untuk belajar (berwirausaha)," katanya.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Raudlotul Qur’an, Khammad Ma’sum, menuturkan ide santri belajar wirausaha sekaligus berdakwah di platform digital lahir dari keinginannya mendigitalisasi aktivitas keagamaan dan unit usaha Masjid Agung Kauman Semarang.

"Saya ingin memanfaatkan TikTok dan media sosial untuk kepentingan dakwah, promosi, sekaligus bersosialisasi dengan masyarakat. Namun saat itu saya belum menemukan mitra yang sejalan dengan ide dan pemikiran saya," ucapnya.

Akhirnya, Keinginan Khammad merealisasikan ide besarnya itu semakin menguat setelah melihat anaknya yang diam-diam sukses menjalankan affiliate produk lewat Tiktok. Sejak saat itu, ia mengirim 10 santri ke Bandung untuk belajar masalah digitalisasi, termasuk cara menjalankan affiliate.

Para santri yang telah mendapatkan pelatihan kemudian dibagi sesuai fokus masing-masing. Sebagian belajar wirausaha melalui TikTok, sisanya belajar menyiarkan aktivitas dakwah di Ponpes Roudlotul Quran, termasuk kajian rutin yang disiarkan secara digital agar dapat diakses masyarakat luas.

"Para santri bisa berjualan, berdakwah, dan menyosialisasikan program-program pesantren agar masyarakat tertarik untuk belajar di pesantren. Barang-barang yang kami tawarkan juga kami pilih yang tidak sulit dipasarkan," ujarnya.

Khammad memastikan meski ada sebagian santrinya yang sedang belajar berwirausaha itu tidak akan mengganggu aktivitas utama mereka. Selama Ramadan, para santri tetap mengikuti berbagai kegiatan kajian, termasuk menghafal Al-Qur’an. (ryc)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....