Jateng Surplus 900 Ribu Ton Beras, Stok Dipastikan Tak Keluar Daerah

  • 03 Mar 2026 22:31 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan produksi padi awal 2026 mengalami surplus signifikan dengan potensi kelebihan beras mencapai sekitar 900 ribu ton. Surplus tersebut dipastikan akan dikelola agar tetap berada di dalam daerah untuk memperkuat cadangan pangan.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jateng, Frans Dasilva, menyebut produksi gabah kering giling (GKG) periode Januari–Maret 2026 diperkirakan mencapai 3,35 juta ton. Setelah dikonversi terhadap kebutuhan konsumsi, Jawa Tengah memiliki potensi surplus beras sekitar 900 ribu ton.

"Secara produksi kita surplus. Tantangannya sekarang adalah bagaimana distribusi dan tata kelolanya agar pasokan tetap di Jawa Tengah dan mendukung penguatan cadangan,” kata Frans saat mendampingi Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menerima audiensi dari Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Tengah di Semarang pada Selasa 3 Maret 2026.

Harga gabah di tingkat petani saat ini juga berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp6.500 per kilogram. Di sejumlah daerah, harga bahkan menyentuh Rp6.700 hingga Rp7.000 per kilogram, sementara harga beras di tingkat konsumen masih relatif terkendali di bawah Rp13.000 per kilogram.

Kepala Perum Bulog Kanwil Jawa Tengah, Sri Muniati, mengatakan hingga awal Maret 2026 pihaknya telah merealisasikan serapan gabah 63.909 ton setara beras. Angka tersebut setara 12,39 persen dari target pengadaan 2026 sebesar 515.722 ton setara beras.

Memasuki puncak panen Maret–April, Bulog menargetkan percepatan serapan. Saat ini rata-rata serapan sekitar 3.000 ton per hari dan perlu ditingkatkan menjadi 3.900 ton per hari agar target tahunan tercapai.

Artinya, masih diperlukan tambahan serapan sekitar 900 ton per hari untuk mengoptimalkan momentum panen raya. Bulog juga mendorong pelaku industri pengolahan padi yang belum menjadi Mitra Pengadaan Pangan agar berkontribusi minimal 10 persen dari kapasitas produksinya.

Selain beras, Bulog Jateng juga mendapat penugasan menyerap jagung pipil kering untuk Cadangan Jagung Pemerintah dengan target 73.776 ton pada 2026. Hingga 1 Maret 2026, realisasi serapan jagung mencapai 5.230,85 ton atau 7,09 persen dari target tahunan.

Di komoditas lain, realisasi penerimaan Minyakita tercatat 6.099.616 liter atau 90,06 persen dari rencana pengadaan 6.772.540 liter. Sementara itu, stok Cadangan Beras Pemerintah di Jawa Tengah per 1 Maret 2026 mencapai 344.312 ton setara beras.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan surplus produksi tidak boleh membuat pemerintah lengah terhadap dinamika harga. Ia meminta jajarannya sigap melakukan intervensi agar tidak terjadi lonjakan harga baik di tingkat petani maupun konsumen.

Menurutnya, penguatan stok dan pengendalian distribusi menjadi kunci menjaga stabilitas pangan daerah. Dengan surplus sekitar 900 ribu ton beras, Jawa Tengah optimistis ketahanan pangan tetap terjaga tanpa harus mengeluarkan pasokan secara berlebihan ke luar daerah.

"Segera intervensi agar tidak ada fluktuasi harga tinggi,” tegasnya. (royce)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....