Tradisi Dugderan, Cara Warga Kota Semarang Sambut Ramadan

  • 06 Feb 2026 08:26 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Tradisi Dugderan merupakan festival tahunan yang digelar di Kota Semarang, Jawa Tengah, untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Tradisi ini menjadi perpaduan antara nilai budaya, agama, dan kehidupan sosial masyarakat yang hingga kini masih lestari dan menarik perhatian warga lokal maupun wisatawan.

Dalam kajian Mukhamad Shokheh berjudul “Dugderan sebagai Tradisi Keagamaan dan Budaya Masyarakat Semarang” yang dimuat dalam Jurnal Sejarah dan Budaya, Dugderan disebut sebagai tradisi khas yang mencerminkan akulturasi budaya Islam dan tradisi lokal. Menurutnya, Dugderan tidak sekadar ritual tahunan, tetapi warisan budaya yang sarat makna sosial dan religius.

Sejarah mencatat, Dugderan mulai berkembang pada kisaran tahun 1862 hingga 1881, saat masyarakat belum memiliki sistem komunikasi yang efektif untuk mengetahui awal Ramadan. Dalam penelitian Dewi Yuliati di Jurnal Paramita Universitas Negeri Semarang, disebutkan bahwa pada masa itu pengumuman resmi awal puasa menjadi kebutuhan penting masyarakat.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Bupati Semarang kala itu, Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat, menciptakan inovasi berupa pengumuman terbuka. Pengumuman dilakukan dengan bunyi bedug sebanyak 17 kali dan dentuman meriam sebanyak tujuh kali.

Bunyi bedug yang berbunyi “Dug” dan meriam yang berdentum “Der” kemudian melahirkan istilah Dugderan. Tradisi ini berkembang menjadi penanda resmi dimulainya bulan Ramadan sekaligus perayaan rakyat yang dinantikan setiap tahun.

Dalam perkembangannya, tradisi Dugderan digelar satu hingga dua pekan menjelang Ramadan. Rangkaian acaranya meliputi pasar malam, prosesi pengumuman awal Ramadan, serta kirab budaya Warak Ngendok yang menjadi ikon utama Dugderan.

Penelitian Budi Prasetyo dalam Jurnal Sejarah Citra Lekha Universitas Diponegoro mencatat bahwa pasar malam Dugderan memiliki fungsi sosial dan ekonomi. Kegiatan ini meningkatkan antusiasme masyarakat sekaligus menjadi ruang interaksi sosial dan ekonomi warga.

Pasar malam Dugderan menghadirkan berbagai produk, mulai dari makanan tradisional hingga kebutuhan rumah tangga. Kehadiran pasar ini turut menggerakkan perekonomian lokal, khususnya bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

Puncak perayaan Dugderan ditandai dengan kirab Warak Ngendok yang merepresentasikan simbol akulturasi budaya Jawa, Arab, dan Tionghoa. Setelah kirab, masyarakat berkumpul di kawasan Masjid Kauman untuk mendengarkan pengumuman awal Ramadan dan sambutan dari Bupati Semarang serta Imam Masjid Besar.

Menurut kajian Sari dan Wibowo dalam Jurnal Ekonomi Kreatif dan UMKM, tradisi Dugderan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi pelaku usaha lokal. Tradisi ini juga berperan sebagai perekat sosial yang memperkuat rasa kebersamaan masyarakat Kota Semarang.

Dengan nilai sejarah, budaya, dan ekonomi yang menyertainya, Dugderan tidak hanya menjadi tradisi keagamaan. Tradisi ini juga menjadi identitas kultural Kota Semarang yang terus dijaga dan diwariskan lintas generasi. (Wohingati)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....