Belum Ada Kasus, Pemkot Semarang Tetap Waspadai Virus Nipah

  • 04 Feb 2026 21:16 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang — Meski belum ditemukan kasus Virus Nipah di Indonesia, Pemerintah Kota Semarang tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran virus tersebut. Hal itu menyusul adanya laporan kasus yang terkonfirmasi di India.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam, menegaskan bahwa Kota Semarang masih berada dalam kondisi aman. Namun, langkah antisipasi tetap diperkuat mengingat Virus Nipah memiliki tingkat kematian yang tergolong tinggi.

“Alhamdulillah, dari Kementerian Kesehatan yang disampaikan, sampai saat ini belum ada kasus. Di Kota Semarang juga belum ditemukan,” ujar Hakam, Rabu, 4 Februari 2026.

Hakam menyampaikan, Kementerian Kesehatan telah menggelar rapat koordinasi secara daring dengan pemerintah daerah guna meningkatkan kewaspadaan dini terhadap potensi masuknya Virus Nipah ke Indonesia, termasuk ke tingkat kabupaten dan kota.

Menurutnya, Virus Nipah berasal dari famili Paramyxoviridae dengan reservoir alami berupa kelelawar buah atau Pteropus spp. Virus ini dapat hidup pada kelelawar tanpa menimbulkan gejala, namun dapat menular melalui hewan lain seperti babi atau ternak, sebelum akhirnya menginfeksi manusia.

Ia menambahkan, sejak pertama kali teridentifikasi pada 1998 di India dan Malaysia, kasus Virus Nipah dilaporkan mengalami peningkatan di sejumlah negara. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena tingkat kematian pada manusia yang terinfeksi cukup tinggi, berkisar antara 50 hingga 75 persen.

Hakam menjelaskan, gejala infeksi Virus Nipah bervariasi mulai dari yang ringan hingga berat. Gejala awal dapat berupa demam, nyeri otot, flu, mual, dan muntah. Sementara pada kondisi berat, virus dapat menyebabkan gangguan saraf hingga radang otak atau ensefalitis.

“Radang otak secara klinis ditandai dengan kebingungan, disorientasi, kejang, penurunan kesadaran hingga koma. Jika sudah masuk ke gejala berat, kondisinya sangat berbahaya sehingga harus diwaspadai,” katanya.

Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus maupun vaksin khusus untuk Virus Nipah. Penanganan medis masih bersifat suportif, seperti pemberian obat penurun demam, antikejang, serta terapi pendukung lainnya.

Pencegahan meliputi rajin mencuci tangan, dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Selain itu, menghindari konsumsi buah yang tidak utuh atau berpotensi terkontaminasi, serta menghindari kontak dengan hewan ternak di wilayah berisiko.

“Masyarakat juga diimbau menggunakan masker, terutama saat bepergian. Virus dapat masuk melalui saluran pernapasan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....