Nyadran Sepujud Ramah Lingkungan, Pakai Keranjang Bambu
- 31 Jan 2026 10:07 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Temanggung - Menjelang bulan Ramadan, masyarakat Desa Soropadan, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung menggelar tradisi nyadran. Tradisi Nyadran tersebut dilaksanakan di Pemakaman Sepujud (Suralaya) di bukit di Dusun Gunung Kekep, Desa Kupen, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Jumat 11 Januari 2026.
Masing-masing kepala keluarga membawa lima paket makanan dan lauk pauknya. Namun, saat membawa makan tersebut tidak boleh mengunakan tempat yang terbuat dari plastik, melainkan besek atau keranjang terbuat dari anyaman bambu.
“Kami menghimbau agar seluruh warga yang ikut nyadran ini tidak membawa tas plastik, Ini dilakukan sebagai salah satu kampanye pengurangan penggunaan plastik,” kata Ketua Panitia Nyadran Sepujud, Agus Sarwono.
Ia mengatakan, penggunaan keranjang dari anyaman bambu tersebut menjadi ciri khas tersendiri acara nyadran di pasarean Sepujud. Selain itu juga untuk mengurangi limbah plastic.
Menurutny penggunaan keranjang anyaman bambu untuk tempat membawa makanan pengganti tas plastik tersebut telah dilakukan sejak lima tahun lalu. Sebelumnya, setiap kegiatan nyadran di Pasarean Sepujud, selalu menggunakan tas plastik yang tidak ramah lingkungan.
Ia menambahkan, tradisi nyadran di pasarean tersebut selalu dilaksanakan bertepatan hari Jumat Pahing ( penanggalan Jawa), di bulan Syaban.
Pada tradisi nyadran tersebut tidak mengenal acara makan bersama di lokasi nyadran, Melainkan, makanan yang dimasukkan ke dalam keranjang tersebut, setelah doa bersama selesai, lalu dibawa pulang ke rumahnya masing-masing.
“Setiap orang yang datang diberi satu keranjang berisi makanan tersebut, masing-masing kepala keluarga wajib membawa lima keranjang makanan, lalu ditukarkan dengan keluarga lainnya. Bila ada sisa, maka makanan tersebut dibagi-bagikan kepada orang yang memerlukan,” ujarnya.
Sesepuh Desa Soropadan, Kusnendaryanto menambahkan, pada bukit di Dusun Gunung Kekep, Desa Kupen, Kecamatan Pringsurat, terdapat makam Kiai dan Nyi Honggo Potro ( Pujud). Makam itu dipercaya sebagai cikal bakal masyarakat Desa Soropadan.
Selain itu, Kiai Honggo Potro merupakan salah satu pengikut Pangeran Diponegoro saat melawan penjajah Belanda. Ki Honggo Potro ini merupakan salah satu pengikut Pangeran Diponegoro saat melawan penjajah Belanda di wilayah sini.
"Sebenarnya nama aslinya Pujud, dan berganti nama Hongo Potro dan merupakan cikal bakal masyarakat Soropadan,” kata Kusnendaryanto. Tradisi nyadran di Pasarean Sepujud tersebut, tidak hanya dihadiri oleh masyarakat Desa Soropadan saja.
Nyadran dihadiri orang-orang yang berasal dari berbagai kota dan mempunyai keluarga di Soropadan. Mereka menyempatkan hadir untuk kembali menjalin silaturahmi. (wied)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....