Dongkrak Ekonomi Desa, Kampung Ramadan Perlu Bangun Customer Experience

  • 24 Feb 2026 20:08 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Keberadaan Kampung Ramadan di berbagai desa dinilai tidak cukup hanya menjadi pusat penjualan takjil dan produk UMKM. Agar mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan, Kampung Ramadan perlu menciptakan customer experience atau pengalaman berkesan bagi pengunjung.

Pengamat Ekonomi Universitas Negeri Semarang (Unnes), Bayu Bagas H mengatakan, pola konsumsi masyarakat saat ini telah bergeser. Pengunjung tidak lagi sekadar membeli produk, tetapi mencari pengalaman unik yang bisa dinikmati sekaligus dibagikan di media sosial.

“Orang datang ke suatu tempat sekarang bukan hanya membeli barang atau makanan, tetapi membeli pengalaman. Jadi Kampung Ramadhan harus mampu menciptakan experience itu,” katanya dalam wawancara bersama Pro 1 RRI Semarang, Selasa, 24 Februari 2026.

Menurutnya, jika hanya mengandalkan penjualan produk, persaingan antar-UMKM berpotensi terjadi dan justru kurang sehat. Namun, apabila dikemas secara tematik dan terkonsep, Kampung Ramadan bisa menjadi destinasi musiman yang menarik.

Bayu mencontohkan pengelolaan pasar komunitas seperti Pasar Papringan di Temanggung yang mengedepankan konsep tradisional dan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Mulai dari penggunaan alat transaksi berbahan bambu hingga suasana khas pedesaan yang autentik, semuanya dirancang untuk membangun daya tarik.

Konsep serupa, kata dia, bisa diadaptasi dalam Kampung Ramadan. Misalnya dengan menentukan tema tertentu, penggunaan busana khas seperti lurik bagi pedagang, dekorasi bernuansa Islami atau tradisional, hingga penataan lokasi yang nyaman dan instagramable.

“Harus ada tema dan suasana yang kuat. Bisa dengan dress code, dekorasi unik, atau konsep tertentu yang membuat orang merasa berbeda ketika datang ke sana. Intinya adalah creating experience,” jelasnya.

Ia juga menilai strategi menciptakan efek fear of missing out (FOMO) penting untuk menarik generasi muda, seperti Gen Z dan Gen Alpha. Dengan konsep yang kuat, pengunjung tidak hanya datang untuk berbelanja, tetapi juga untuk bersosialisasi dan membagikan pengalaman mereka di media sosial.

Jika dikelola secara kolaboratif oleh pemuda desa bersama pemerintah dan pelaku UMKM, Kampung Ramadan berpotensi menjadi bagian dari pengembangan wisata ramah Muslim (moslem friendly tourism) sekaligus motor penggerak ekonomi lokal. “Kalau experience-nya kuat, orang akan datang bukan hanya karena produknya, tetapi karena suasananya," ucapnya. (ARITSU)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....