Perbedaan Awal Ramadan 1447 Hijriyah, Wujud Kedewasaan Beragama
- 18 Feb 2026 17:54 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Setiap tahun, umat Islam di Indonesia dihadapkan pada fenomena perbedaan penentuan awal Ramadan. Situasi ini seharusnya bisa menjadi sarana untuk melatih kedewasaan dalam beragama.
Tahun ini, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Sementara, pemerintah dan Nahdlatul Ulama melalui Kementerian Agama RI menetapkannya pada Kamis, 19 Februari 2026.
Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Susilo Surahman mengajak umat Islam agar tidak terjebak pada perbedaan tanggal. Akan tetapi, fokus pada esensi Ramadan, yaitu transformasi moral.
"Perbedaan ini bukan hal baru. Bukan pula kekacauan, melainkan lahir dari perbedaan metode penentuan awal bulan," ujarnya, Rabu, 18 Februari 2026.
Muhammadiyah menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi, sedangkan pemerintah menggunakan rukyat yang dikombinasikan dengan hisab. Masalahnya, perbedaan metode yang sejatinya bersifat teknis sering berubah menjadi konflik identitas.
Di ruang publik, perbedaan ini tidak jarang dipersepsikan sebagai pertarungan kebenaran, siapa yang lebih “ilmiah”, siapa yang lebih “syar’i”. Padahal, dalam fiqh Islam, perbedaan pendapat atau ikhtilaf adalah bagian dari tradisi intelektual yang justru menunjukkan keluasan berpikir para ulama.
Di sinilah letak persoalan utamanya, yaitu pada cara kita menyikapinya. Banyak orang masih terjebak pada logika “paling benar”, seolah ibadah orang lain menjadi tidak sah hanya karena berbeda hari.
Sikap seperti ini tidak hanya miskin secara keilmuan, tetapi juga berbahaya secara sosial karena merusak ukhuwah dan kepercayaan antarsesama. Esensi Ramadan bukan terletak pada keseragaman kalender, melainkan pada transformasi moral.
Puasa bertujuan melatih pengendalian diri, empati, dan kedewasaan spiritual. Ironisnya, jika di awal Ramadan saja umat sudah saling menyindir, merendahkan, bahkan memaki, maka yang hilang justru ruh dari ibadah itu sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, dampak perbedaan ini sebenarnya sangat sederhana. Ada keluarga yang ayahnya mulai puasa Rabu, ibunya Kamis, ada masjid yang sudah tarawih, sementara masjid sebelah belum.
Situasi ini seharusnya bisa menjadi latihan toleransi paling konkret. Umat Islam harus belajar hidup berdampingan dalam perbedaan.
"Yang dibutuhkan publik hari ini bukanlah penyeragaman paksa, melainkan literasi keagamaan. Umat perlu diedukasi bahwa perbedaan ini sah secara agama, normal secara ilmiah, dan wajar secara sosial," katanya. (Rel/Put)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....