Gebyuran Bustaman, Tradisi Air Sambut Ramadan di Semarang
- 14 Feb 2026 18:45 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang: Tradisi Gebyuran Bustaman kembali berlangsung di Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Kota Semarang. Acara ini melambangkan penyucian diri sebagai persiapan masyarakat menyambut datangnya bulan Ramadan.
Tradisi yang digelar di kawasan padat penduduk ini tumbuh di tengah ikatan sosial warga yang kuat. Setiap tahun, masyarakat menantikan perayaan tersebut dengan antusias karena telah menjadi bagian dari identitas kampung.
Dalam sejarahnya, Gebyuran berawal dari kebiasaan Kyai Bustaman yang membasuh cucunya menjelang Ramadan sebagai simbol kebersihan lahir dan batin. Kebiasaan itu kemudian berkembang menjadi ritual bersama dengan menyiramkan air dari sumur petilasan milik Kyai Bustaman.
Pelaksanaan tradisi biasanya diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat untuk memohon kemudahan serta keberkahan. Setelah itu, warga saling menyiram air sambil membawa keceriaan, menciptakan suasana kebersamaan yang terasa hangat.
Gebyuran tidak sekadar permainan air, tetapi menjadi perlambang penyucian diri sebelum menjalankan ibadah puasa. Percikan air dimaknai sebagai ajakan membersihkan hati dari kesalahan masa lalu.
Peserta kerap melukis wajah dan tubuh dengan warna-warni sebagai simbol noda yang melekat dalam diri manusia. Ketika air mengguyur, tanda-tanda tersebut seolah terhapus, menggambarkan harapan untuk memulai Ramadan dengan jiwa yang baru.
Lebih jauh, tradisi ini juga menegaskan pentingnya persatuan di tengah keberagaman masyarakat Bustaman. Momentum kebersamaan tersebut mempererat hubungan antarwarga sekaligus menghidupkan nilai gotong royong.
Para tetua kampung menyebut Gebyuran telah ada sejak sekitar tahun 1742, meski sempat terhenti dalam kurun waktu panjang. Sekitar 2012, warga setempat menghidupkan kembali kegiatan ini agar tidak hilang ditelan zaman.
Kini, Gebyuran Bustaman tidak hanya melibatkan penduduk setempat, tetapi juga menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah. Pemerintah Kota Semarang turut mendukungnya sebagai agenda pariwisata tahunan karena keunikannya yang jarang ditemukan di wilayah lain.
Kehadiran generasi muda menjadi kunci keberlanjutan tradisi ini di tengah arus modernisasi kota. Dari Gebyuran Bustaman, masyarakat belajar bahwa menjaga warisan budaya berarti merawat jati diri sekaligus memperkuat rasa kebersamaan antar generasi. (Ilma Shoofi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....