Stok Pangan jelang Ramadan Aman, Jateng Waspadai Spekulan

  • 12 Feb 2026 10:19 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan ketersediaan pangan menjelang Imlek dan Ramadan dalam kondisi surplus. Fokus pengawasan kini diarahkan pada potensi permainan harga oleh spekulan di pasar.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan(Dishanpan) Jateng, Dyah Lukisari, menyebut stok pangan nasional melimpah dengan cadangan lebih dari 3 juta ton. Cadangan pangan milik Provinsi Jateng ada sekitar 100 ton dan akan ditambah pengadaan 300 ton lagi.

"Jadi kalau bicara ketersediaan pangannya sangat cukup. Untuk Ramadan ini pun juga sangat cukup," ujarnya saat diwawancarai RRI, Kamis, 12 Februari 2026.

Menurutnya, saat ini yang perlu diwaspadai adalah kecenderungan kenaikan harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional. Dishanpan berkolaborasi dengan Badan Pangan Nasional dan Satgas Pangan kepolisian untuk pengawasan lapangan seperti saat Natal dan tahun baru lalu.

"Biasanya para pedagang itu membuat situasi-situasi seperti ini untuk menaikkan harga. Ini seminggu sebelum sebelum puasa sudah mulai turun lapangan untuk memastikan harga di pasar sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET)," tuturnya.

Selain pengawasan, Pemprov Jateng juga menyiapkan Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak. Kegiatan ini rencananya akan serentak tingkat provinsi menjelang Lebaran dan dimungkinkan digelar mandiri oleh daerah dan perusahaan lewat CSR.

Dyah menilai perbaikan ekosistem harga dari hulu ke hilir yang diawasi Satgas Pangan efektif meredam gejolak harga. "Ekosistem harga dari hulu sampai hilir sekarang sudah diawasi ketat oleh Satgas sehingga bisa meredam harga," tuturnya.

Sementara itu, ditanya terkait tantangan ketahanan pangan jelang hari besar keagamaan yang bertepatan dengan puncak musim hujan, diakuinya juga sudah diantisipasi. Ia mendorong agar dinas terkait terus mengawal dampak bencana yang berpotensi mengganggu produksi.

"Teman-teman di pertanian itu yang harus gerak cepat memulihkan kondisinya dengan bantuan-bantuan, untuk bisa berusaha kembali tanamannya. Memang akhirnya produksinya sedikit agak mundur ya, karena tanamannya kan juga mundur," ujarnya.

Dalam kondisi ini, Dishanpan juga mendorong diversifikasi pangan lokal agar ketahanan tidak hanya bertumpu pada beras. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga ketersediaan saat produksi terganggu.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares mengakui kejadian gagal panen atau puso akibat bencana mempengaruhi produksi padi. Kendati begitu jumlahnya maksimal hanya 4 persen.

“Paling banyak puso karena banjir, kekeringan, hama penyakit. Dalam dekat ini akan ada panen lagi di Sragen, ya Solo Raya," ungkapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....