Pakar Falak Paparkan Prediksi Awal Ramadan Tahun 2026

  • 28 Jan 2026 05:51 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Beredarnya beragam jadwal imsakiyah di tengah masyarakat, mendorong perlunya pemahaman bersama yang berbasis ilmu falak dan pedoman resmi. Sebab, tidak semuanya mencantumkan sumber dan metode perhitungan yang jelas.

Isu tersebut mengemuka dalam Lokakarya Imsakiyah Ramadan 1447 H/2026 M yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Walisongo Semarang. Kegiatan ini diselenggarakan di Ruang Observatorium dan Planetarium Kampus III UIN Walisongo Semarang, Selasa, 27 Januari 2026.

Guru Besar Ilmu Falak UIN Walisongo sekaligus Ketua Umum Asosiasi Dosen Falak Indonesia (ADFI), Prof. Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag dalam pemaparannya menekankan pentingnya akurasi data dalam jadwal imsakiyah. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak sembarang merujuk pada selebaran yang tidak jelas sumber metodenya.

“Jadwal imsakiyah harus disusun berdasarkan kaidah ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika sumbernya tidak jelas, dikhawatirkan waktu memulai atau mengakhiri puasa menjadi tidak tepat,” ujarnya.

Berdasarkan perhitungan hisab dengan kriteria MABIMS, posisi hilal pada Selasa Kliwon, 17 Pebruari 2026 saat matahari terbenam masih berada di bawah ufuk. Kondisi ini belum memenuhi kriteria imkanur rukyat, sehingga awal Ramadan 1447 H diprediksi jatuh pada Kamis Pahing, 19 Februari 2026.

Ia juga memaparkan prediksi terkait Idulfitri. Berdasarkan perhitungan posisi hilal, 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026.

Meski telah ada prediksi ilmiah, Prof. Izzuddin menegaskan, keputusan final tetap menunggu hasil musyawarah resmi pemerintah. Data dari lokakarya ini akan menjadi salah satu referensi teknis bagi otoritas terkait.

“Seluruh data hisab dan rukyat tersebut akan menjadi bahan musyawarah dalam Sidang Isbat. Sidang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI,” ucap Prof. Izzuddin menutup penjelasannya.

Pemerintah melalui Kementerian Agama mengimbau umat Islam untuk tetap menjunjung tinggi toleransi jika terjadi perbedaan penetapan di lapangan. Lokakarya ini diharapkan menjadi rujukan kredibel bagi masyarakat dalam menjalankan ibadah puasa tahun 2026 dengan tenang dan tertib.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....