Indonesia Kembali Jadi Penonton Piala Dunia 2026, Saatnya Benahi Sepak Bola
- 18 Mei 2026 10:50 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Piala Dunia 2026 segera menjelang, namun Indonesia kembali hanya jadi penonton. Kegagalan ini bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan cermin dari persoalan mendasar yang belum juga selesai: tata kelola, konsistensi pembinaan, hingga kualitas kompetisi domestik.
Ketika negara lain berlari dengan sistem yang rapi dan terukur, Indonesia masih sering terjebak pada pendekatan instan.
Padahal, waktu menuju 2030 tidak panjang. Dalam kalender sepak bola, itu hanya satu siklus pembinaan—bahkan bisa dibilang sudah terlambat jika baru mulai serius sekarang.
Lihat bagaimana negara seperti Jepang atau Korea Selatan membangun fondasi. Mereka tidak tiba-tiba kuat. Ada investasi puluhan tahun pada akademi, kompetisi usia muda, hingga disiplin organisasi. Sementara Indonesia kerap mengganti arah setiap pergantian kepemimpinan.
Masalah utamanya bukan mimpi, tapi cara bermimpi. Kita ingin hasil cepat tanpa membangun proses panjang. Naturalisasi dijadikan jalan pintas, liga domestik belum sepenuhnya kompetitif, dan pembinaan usia dini masih belum merata serta terstandar.
Dan..sepak bola Indonesia terlalu sering jadi arena tarik-menarik kepentingan. Padahal, keberhasilan butuh stabilitas minimal 8 hingga 10 tahun tanpa perubahan arah. Di sinilah peran PSSI diuji: apakah berani menjaga arah jangka panjang, atau kembali tergoda hasil instan demi popularitas sesaat.
Target 2030 itu realistis. Artinya berani mengakui kegagalan sistem, bukan sekadar menyalahkan pelatih atau pemain. Berani membangun dari bawah, meski tidak populer. Dan berani menahan diri dari keputusan populis yang merusak fondasi. Tanpa itu, Indonesia akan terus hadir di Piala Dunia—tapi hanya sebagai penonton setia.
( Editorial RRI Semarang)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....