Pengamat Sebut Larangan Tutup Mulut FIFA Berpotensi Timbulkan Polemik

  • 30 Apr 2026 10:40 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Rencana Fédération Internationale de Football Association(FIFA) atau Federasi Sepak Bola Internasional menerapkan kartu merah bagi pemain yang menutup mulut saat beradu argumen diprediksi memicu polemik. Kebijakan yang disiapkan untuk Piala Dunia 2026 itu dinilai berpotensi menimbulkan perdebatan di tengah pertandingan.

Pengamat Sepak Bola di Semarang, Alko Komari, menilai aturan itu terlalu rigid. Menurutnya, sepak bola tidak hanya soal aspek teknis, tetapi juga memiliki unsur nonteknis yang menjadi karakter permainan dan pertandingan.

Untuk diketahui, FIFA tengah menyiapkan regulasi disiplin baru untuk diterapkan pada putaran final Piala Dunia 2026. Salah satu poin utamanya adalah larangan keras bagi pemain menutup mulut saat terlibat perdebatan atau konfrontasi di lapangan.

Kebijakan ini diambil sebagai respons atas maraknya dugaan pelecehan verbal yang sulit dideteksi perangkat pertandingan. Pemain yang melanggar aturan tersebut terancam langsung dijatuhi kartu merah.

Selain itu, FIFA juga akan memberlakukan sanksi kartu merah otomatis bagi pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit. Aturan ini disebut terinspirasi dari insiden final Piala Afrika antara Senegal dan Maroko pada Januari lalu.

Komari menilai jika aturan itu ditujukan untuk mencegah tindakan rasis, menurutnya tindakan itu umumnya dapat dikenali dari simbol atau gestur pemain di lapangan. “Itu rasis itu biasanya itu bisa diketahui dengan simbol-simbol atau gerakan-gerakan baik itu gerakan tangan, gerakan kepala atau gerakan yang lain,” ujarnya.

Adapun, tindakan rasis cukup dapat terawasi melalui teknologi Video Assistant Referee (VAR) yang dinilai dapat mendeteksi berbagai pelanggaran. “Jadi saya pikir dengan kamera VAR itu sudah cukup bagi pengawas pertandingan untuk melihat kecurangan-kecurangan, kemudian perlakuan-perlakuan yang tidak adil juga aksi-aksi atau tindakan-tindakan yang itu berbau rasis,” katanya.

Ia menilai larangan menutup mulut berpotensi menimbulkan tafsir berbeda dalam pertandingan. Pasalnya, tidak semua aksi tersebut berkaitan dengan perilaku negatif, melainkan bisa menjadi bagian dari strategi tim yang kerap digunakan pemain untuk menyusun taktik di lapangan.

Meski demikian, ia menilai aturan terkait sanksi bagi pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes masih bisa diterima. “Ya, kalau itu sih masih bisa dipertimbangkan, ya, masih oke,” katanya.

Ia menyebut sanksi tersebut sejalan dengan prinsip disiplin dalam pertandingan. “Meninggalkan itu kan dalam konteks dia sudah enggak mau melanjutkan pertandingan, gitu kan,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....