Wujudkan Generasi Emas 2045, Anggota DPR Edy Wuryanto Dorong Keluarga Terencana

  • 09 Agt 2026 09:05 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Rembang - Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, mendorong setiap keluarga di Indonesia memiliki perencanaan dalam membangun keluarga. Menurutnya, keluarga yang terencana menjadi salah satu kunci untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia 2045.

Edy mengatakan, setiap keluarga perlu menentukan perencanaan sesuai dengan kemampuan, termasuk dalam menentukan jumlah anak. Hal tersebut penting agar orang tua dapat memberikan pengasuhan, pendidikan, serta pemenuhan gizi yang optimal bagi anak.

“Setiap warga Indonesia hendaknya memiliki rencana dalam berkeluarga. Setiap keluarga harus terencana, entah mau anak satu, dua atau tiga,” kata Edy saat sosialisasi program Bangga Kencana bersama Sekretaris Kementerian/Sekretaris Utama Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) atau BKKBN, Prof. Budi Setiyono, di Gedung KUD Mina Kragan, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Ia menegaskan, Generasi Emas 2045 harus diisi oleh sumber daya manusia (SDM) yang sehat, kuat, dan cerdas. Untuk mewujudkannya, pemenuhan gizi anak harus menjadi perhatian sejak dini.

Edy kemudian menceritakan kondisi keluarganya saat masih kecil. Ia menyebut, akses terhadap makanan bergizi pada masa itu tidak semudah sekarang.

“Ibuku SD saja tidak lulus, bapakku pegawai negeri rendahan, membesarkan anak susah, makanan getuk, tiwul, telo itu makananku dulu. Kalau mau protein makan ikan susah, tidak seperti di Rembang yang dekat dengan laut,” tuturnya.

Menurut Edy, salah satu tantangan besar dalam mewujudkan Generasi Emas 2045 adalah masih adanya anak yang lahir dengan kondisi stunting. Oleh karena itu, pemenuhan gizi harus dilakukan sejak remaja putri, ibu hamil, hingga periode 1.000 hari pertama kehidupan.

Sementara itu, Prof. Budi Setiyono mengatakan pemerintah terus memperkuat berbagai program untuk menekan angka stunting. Salah satunya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang juga menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.

“Jangan sampai anak atau cucu bapak ibu lahir stunting. Bayi yang lahir tidak normal, kurang berat badannya, atau tinggi badannya, dan nantinya juga mengganggu tumbuh kembang anak termasuk menurunkan kemampuan kognitif anak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemberian MBG bagi ibu hamil bertujuan mencegah anemia dan kekurangan energi kronis sehingga bayi dapat lahir sehat. Sementara bagi ibu menyusui, program tersebut diharapkan dapat mendukung kualitas dan volume ASI untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi.

Adapun pemberian MBG bagi balita non-PAUD bertujuan mencegah risiko stunting. Selain itu, juga untuk mendukung pemantauan tumbuh kembang anak.

Sosialisasi program Bangga Kencana tersebut diikuti lebih dari 400 warga Kecamatan Kragan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya perencanaan keluarga, kesehatan reproduksi, serta pemenuhan gizi untuk mendukung pembangunan keluarga berkualitas.

Di sisi lain, Plt Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Kabupaten Rembang, Nurdin Fahrudin, menyampaikan capaian program Keluarga Berencana (KB) peserta baru hingga Juni 2026 mencapai 47,66 persen. Dari target sebanyak 10.373 peserta, tercatat 4.944 orang telah mengikuti program KB, dan khusus di Kecamatan Kragan, capaian peserta baru KB berada di angka 37,18 persen.

Sementara itu, tiga desa di Kabupaten Rembang telah menyandang status Kampung Keluarga Berkualitas atau Kampung Berencana tingkat berkelanjutan, yakni Desa Sendangmulyo, Woro, dan Sumbergayam. Pemerintah berharap penguatan program Bangga Kencana, peningkatan kepesertaan KB, serta pemenuhan gizi sejak masa remaja hingga 1.000 hari pertama kehidupan dapat menjadi fondasi dalam mencetak generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas pada 2045. (Mif)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....